CONTOH LENGKAP PTK BAHASA INDONESIA SMP

CONTOH LENGKAP PTK BAHASA INDONESIA SMP-Keterampilan membaca  cerpen  siswa kelas 9.1 SMPN 2 ...  masih rendah. Hal tersebut disebabkan siswa merasa kesulitan dalam menceritakan kembali isi cerpen, siswa masih tidak menceritakan kembali hal-hal penting dalam cerpen dan menemukan unsur-unsur intrinsik dalam cerpen. Hal ini disebabkan penggunaan pendekatan dan media pembelajaran kurang menarik dan membosankan. Selain itu, guru belum secara intensif untuk membimbing siswa dalam pembelajaran membaca cerpen. Terkadang guru  memberikan  materi pelajaran dengan metode ceramah dan tanya jawab saja sehingga membuat siswa merasa bosan dan kurang tertarik. Selain itu membuat siswa kurang aktif dalam pembelajaran.
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus, yaitu siklus I dan siklus II. Tiap siklus terdiri atas perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah keterampilan membaca cerpen siswa kelas 9.1 SMPN 2 .... Sumber data yang digunakan adalah siswa kelas 9.1 SMPN 2 ... dengan jumlah 44 siswa. Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yaitu, keterampilan membaca cerpen dan variabel metode P2R dan model berpikir-berpasangan-berbagi. Pengumpulan data menggunakan teknik tes dan nontes. Tes dilaksanakan dalam bentuk tes unjuk kerja, sedangkan teknik nontes diterapkan melalui observasi, jurnal guru  dan siswa, wawancara, dan dokumentasi foto. Teknik analisis data yang  digunakan pada penelitian ini adalah analisis secara kuantitatif dan kualitatif. Download ptk bahasa indonesia smp kelas 9 doc

Berdasarkan hasil penelitian, terjadi peningkatan keterampilan membaca pada siswa kelas 9.1 SMPN 2 ... setelah mengikuti pembelajaran yang menggunakan metode  P2R  dan  model  berpikir-berpasangan-berbabagi.  Pada siklus I nilai rata-rata siswa sebesar 68,15 dalam kategori cukup. Nilai rata-rata pada siklus I belum mencapai batas ketuntasan yang telah ditetapkan oleh peneliti sehingga dilakukan siklus II. Setelah dilaksanakan tindakan siklus II, nilai rata- rata siswa mengalami peningkatan sebesar 15,67 atau sebesar 23% menjadi sebesar 83,82 dan berada dalam kategori baik. Perilaku siswa kelas 9.1 SMPN 2 ... dalam pembelajaran membaca cerpen dengan metode P2R dan model berpikir-berpasangan-berbagi mengalami perubahan ke arah positif. Perubahan perilaku tersebut dapat dilihat dari data nontes yang terdiri atas observasi, jurnal siswa, jurnal guru, wawancara dengan siswa, dan dokumentasi foto. Berdasarkan data  hasil nontes siklus I mereka masih belum serius dalam menulis puisi, pada tahap revisi siswa belum aktif dalam pembelajaran, dan masih belum percaya diri menunjukkan hasil karyanya. Pada siklus II siswa mengalami perubahan ke arah yang lebih positif. Siswa menjadi serius dalam  membaca cerpen, siswa aktif dalam pembelajaran, percaya diri dalam memaparkan hasil pekerjaannya.

Laporan penelitian tindakan kelas ini membahas BAHASA INDONESIA yang diberi judul "

PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN 
KETERAMPILAN BERBICARA BAHASA INDONESIA 
MELALUI TEKNIK BERCERITA DI SMP . . .
"Disini akan  di bahas lengkap.



PTK ini bersifat hanya REFERENSI saja kami tidak mendukung PLAGIAT, Bagi Anda yang menginginkan FILE PTK BAHASA INDONESIA IX SMP lengkap dalam bentuk MS WORD SIAP DI EDIT dari BAB 1 - BAB 5 untuk bahan referensi penyusunan laporan PTK dapat (SMS ke 0856-47-106-928 dengan Format PESAN PTK SMP 027).

PTK BAHASA INDONESIA SMP KELAS IX TERBARU

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata/bahasa tulis. Membaca sebenarnya hakikatnya adalah melihat tulisan, menyuarakan atau tidak bersuara (membaca dalam hati) dan mengerti isi atau makna tulisan.
Keterampilan membaca merupakan kemampuan bahasa bagi siswa yang harus mereka kuasi agar dapat mengikuti seluruh kegiatan  dalam  proses pendidikan dan pengajaran. Membaca cerpen adalah membaca bacaan yang menimbulkan suatu imajinasi (gambaran) dalam pikiran. Jenis bacaan fiksi adalah bacaan yang penuh sifat  khayali yang tinggi. Kegiatan membaca dalam proses belajar mengajar di kelas melibatkan berbagai faktor yaitu guru, siswa, media, metode, dan tempat berlangsung kegiatan belajar mengajar.

Kegiatan membaca bertujuan untuk mencari serta memperoleh informasi mencakup isi, memahami makna bacaan (Tarigan,  1984:9).  Tujuan  utama membaca adalah untuk mencari serta memperoleh informasi, mencakup isi, memahami makna bacaan (Tarigan, 1984:9). Tujuan membaca seseorang akan menentukan kecepatan bacanya. Berbicara tentang hubungan kecepatan membaca dengan tujuan yang dikehendaki dari kegiatan membacanya itu akan terjadilah apa yang   dinamakan   fleksibilitas   kecepatan   baca.   Yang   dimaksud   fleksibilitas kecepatan baca adalah kelenturan tempo baca pada saat sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dari kegiatan membacanya tersebut.

Membaca merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang memilki peranan penting bagi peningkatan kualitas kehidupan seseorang. Membaca merupakan salah satu diantara empat keterampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis, yang penting untuk dipelajari dan dikuasi oleh setiap individu. Dengan membaca seseorang dapat berinteraksi dengan perasaan dan pikiran, memperoleh informasi dan meningkatakan ilmu pengetahuannya. Membaca bukanlah suatu kegiatan pembelajaran yang mudah. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan siswa dalam membaca. Secara umum faktor- faktor tersebut dapat diidentifikasi seperti guru, siswa, kondisi lingkungan, materi pelajaran, serta teknik mempelajari materi pelajaran.Contoh ptk bahasa indonesia smp kelas 9 pdf

Berdasarkan pengamatan dari observasi yang telah dilakukan di SMPN 2 ... kemampuan siswa dalam membaca cerpen masih rendah apabila dilihat dilihat dari hasil nilai prasiklus, dan nilai-nilai siswa dalam pelajaran membaca cerpen. Berdasarkan pengamatan tersebut dari observasi di kelas, siswa terlihat masih mengalami kesulitan dalam indikator menceritakan kembali isi cerpen dan menentukan unsur intsrinsik aspek latar dan gaya bahasa, kesulitan dalam mengulang kembali bacaan yang telah diberikan dengan tidak melihat bacaan tersebut.

Metode P2R merupakan metode pembelajaran yang akan dilakukan peneliti dalam membelajarkan membaca cerpen. Metode P2R merupakan salah satu cara yang digunakan peneliti untuk meneliti siswa dalam membaca cerpen dengan model berpikir-berrpasangan-berbagi. Sementara berpikir-berpasangan- berbagi  merupakan  jenis  model  pembelajaran  kooperatif  yang  menggunakan kelompok-kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dan saling membantu satu sama lain dalam menyelesaikan tugas yang dipelajarinya (Sutardi dan Sudirjo, 2007:82).
Keterampilan membaca cerpen siswa kelas 9.1 SMPN 2 ... masih rendah. Kebanyakan mereka belum mengerti cara membaca cerpen yang baik. Kelemahan mereka dalam membaca  cerpen terutama dalam  menceritakan kembali isi cerpen menentukan unsur-unsur intrinsik cerpen, mereka belum dapat menentukan unsur intrinsik cerpen aspek latar dan gaya bahasa dengan tepat Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya faktor siswa dan faktor guru. Guru dalam membelajarkan membaca cerpen masih menggunakan  metode ceramah, disamping itu dalam mengajarkan sastra hanya dengan menyampaikan sinopsis (ringkasan cerita) yang hanya bersumber dari buku paket yang digunakan saat  mengajarkan prosa fiksi,  tidak  mencari dari sumber-sumber  lain,  misalnya buku-buku  kumpulan  cerpen.  Itu  dilakukan  supaya  tidak  membutuhkan  waktu yang cukup lama atau menyita waktu.

Masalah-masalah yang sering dialami siswa adalah siswa merasa bosan. Hal ini tampak pada saat pembelajaran berlangsung, karena guru hanya menggunakan sinopsis dalam membelajarkan cerpen, dan cara mengajar guru masih monoton yaitu dengan metode ceramah. Hal itu menyebabkan  siswa  merasa  malas  dan tidak bersemangat dalam pembelajaran membaca cerpen. Selain itu siswa tampak jenuh pada waktu guru menjelaskan cerpen, siswa tidak antusias kepada pembelajaran bahkan pada saat tanya jawab tak ada siswa yang mau berbicara atau mengungkapkan pendapat kalau tidak ditunjuk oleh guru. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, guru dan siswa perlu pengenalan model dan teknik dalam pembelajaran membaca cerpen yang  dapat  menyegarkan  suasana  KBM  di sekolah. Oleh karena itu, peneliti mengambil penelitian tindakan  kelas  dengan judul, “Peningkatan Keterampilan Membaca Cerpen dengan Metode P2R dan Model Berpikir-Berpasangan-Berbagi pada Siswa Kelas 9.1 SMPN 2 ...”

1.2 Identifikasi Masalah
Pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia diarahkan untuk membekali siswa terampil berkomunikasi dengan bahasa Indonesia secara baik dan benar. Pembelajaran membaca cerpen merupakan bagian dari pembelajaran karya sastra pada siswa SMP kelas 9.1 dan pembelajaran ini merupakan pembelajaran yang perlu  mendapatkan perhatian khusus dan serius. Dalam pembelajaran  membaca cerpen, siswa dituntut untuk memahami isi kutipan cerpen yang akan dibaca dan memahami unsur intrinsik yang ada dalam kutipan cerpen tersebut.

Keterampilan membaca cerpen siswa kelas 9.1 masih rendah. Hal ini, disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya faktor siswa dan faktor guru. Masalah-masalah yang sering dialami siswa adalah karena siswa merasa bosan. Hal ini tampak pada saat pembelajaran berlangsung, karena guru hanya menggunakan sinopsis dalam membelajarkan cerpen, dan cara mengajar guru masih monoton yaitu dengan metode ceramah. Hal ini tampak pada saat pembelajaran berlangsung, siswa tampak jenuh pada waktu guru menjelaskan cerpen, siswa tidak antusias kepada pembelajaran bahkan pada saat tanya jawab tak ada siswa yang mau berbicara atau mengungkapkan pendapat kalau tidak ditunjuk oleh guru. Hal itu menyebabkan siswa merasa malas  dan  tidak bersemangat dalam pembelajaran membaca cerpen.

Rendahnya kemampuan siswa dalam membaca cerpen juga disebabkan belum tepatnya guru dalam proses pembelajaran. Guru dalam membelajarkan membaca cerpen masih menggunakan metode ceramah, di samping itu juga mengajarkan sastra hanya dengan menyampaikan sinopsis (ringkasan cerita) yang hanya bersumber dari buku paket yang digunakan saat mengajarkan prosa fiksi, tidak mencari dari sumber-sumber lain, misalnya saja buku-buku kumpulan cerpen. Itu dilakukan supaya tidak membutuhkan waktu yang cukup lama atau menyita waktu.

Beberapa faktor penyebab di atas adalah masalah–masalah yang  dapat dicari solusinya, akan tetapi harus sesuai dengan sejauh mana usaha menyikapi dan sejauh mana usaha itu membuahkan hasil. Solusinya yang tepat untuk permasalahan tersebut adalah guru harus memilih model dan teknik yang mampu membuat siswa aktif dan berpartisipatif mengikuti pembelajaran,  salah  satunya yaitu dengan menggunakan metode P2R melalui model berpikir-berpasangan- berbagi. Dengan pembelajaran yang menggunakan metode P2R melalui model berpikir-berpasangan-berbagi ini diharapkan siswa kelas 9.1 SMPN 2 ... mampu membaca cerpen dengan baik serta memahami unsur intrinsik cerpen dengan benar, sehingga siswa semakin berminat dalam pembelajaran membaca cerpen.

1.3 Pembatasan Masalah
Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa permasalahan dalam penelitian ini cukup luas, perlu adanya pembatasan masalah.  Peneliti  memilih kelas 9.1 SMPN 2 ... sebagai subjek penelitian karena memang siswa di kelas tersebutlah yang bermasalah dalam pembelajaran membaca, terutama membaca cerpen. Kebanyakan siswa di kelas tersebut kurang berkonsentrasi dalam membaca cerpen dan kurang bersemangat pada saat proses pembelajaran membaca.
Penggunaan metode P2R diharapkan siswa dapat membaca cepat dengan baik dalam beberapa tahapan membaca. Sementara berpikir-berpasangan-berbagi termasuk salah satu model pembelajaran cooperative learning merupakan pengajaran kooperatif terpadu dalam pembelajaran membaca cerpen di  mana siswa dapat bekerja sendiri serta bekerja sama dengan kelompoknya dalam menemukan unsur intrinsik dalam cerpen.

1.4 Rumusan Masalah
Berdasarkan  latar  belakang  masalah  di  atas,  rumusan  masalah  yang peneliti ajukan sebagai berikut:
1.4.1 Bagaimanakah proses pembelajaran membaca cerpen pada siswa kelas 9.1 SMPN 2 ... dengan menggunakan metode P2R dan model berpikir-berpasangan-berbagi?
1.4.2 Bagaimanakah peningkatan keterampilan pembelajaran membaca cerpen pada siswa kelas 9.1 SMPN 2 ... dengan menggunakan metode P2R dan model berpikir-berpasangan-berbagi?
1.4.3 Bagaimanakah perubahan perilaku siswa kelas 9.1 SMPN 2 ... dalam mengikuti pembelajaran membaca cerpen dengan menggunakan metode P2R dan model berpikir-berpasangan-berbagi?

1.5 Tujuan Penelitian
Sesuai dengan identifikasi masalah di atas, maka tujuan yang ingin dicapai adalah:
1.5.1 Mendeskripsikan proses pembelajaran membaca cerpen pada siswa kelas 9.1 SMPN 2 ... dengan menggunakan metode P2R dan model berpikir-berpasangan-berbagi.
1.5.2 Mendeskripsikan peningkatan  keterampilan  pembelajaran  membaca cerpen pada siswa kelas 9.1 SMPN 2 ... dengan menggunakan metode P2R dan model berpikir-berpasangan-berbagi.
1.5.3 Mendeskripsikan perubahan perilaku siswa kelas 9.1 SMPN 2 ... dalam mengikuti pembelajaran membaca cerpen dan menggunakan metode P2R melalui model berpikir-berpasangan-berbagi.
1.5.4

1.6 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat teoretis dan praktis. Contoh ptk bahasa indonesia smp doc Manfaat teoretis yaitu penelitian ini bermanfaat untuk memberikan sumbangan informasi dan masukan ilmu dalam pengembangan teori pembelajaran membaca cerpen di SMP dengan menggunakan metode P2R dan model berpikir- berpasangan-berbagi. Sedangkan manfaat praktis antara lain: (a) bagi guru yaitu penelitian ini bermanfaat untuk memberi sumbangan informasi dan masukan ilmu pengetahuan serta pengalaman bagi guru tentang pembelajaran membaca cerpen yang dapat digunakan sebagai alternatif pembelajaran di  SMP;  (b)  bagi siswa yaitu  penelitian  ini  dapat  memberikan  partisipatif  siswa  dalam membacacerpen yang dapat digunakan siswa dalam kegiatan tertentu. Selain itu, dapat memberikan motivasi dan memberikan kemudahan siswa dalam membaca cerpen; (c) bagi sekolah yaitu penelitian ini diharapkan  dapat  memberikan  sumbangan baik, berupa perbaikan pembelajaran membaca cerpen dengan hasil yang memuaskan dan dapat meningkatkan kualitas sekolah; (d) pembaca mendapatkan pengalaman tentang pembelajaran membaca cerpen, khususnya membaca cerpen dengan menggunakan metode P2R dan model berpikir-berpasangan-berbagi.

CONTOH LAPORAN PROPOSAL PTK BAHASA INDONESIA KELAS IX

BAB II
LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS

2.1 Landasan Teoretis
Landasan teoretis yang digunakan dalam penelitian ini 1) keterampilan membaca cerpen, 2) pengertian cerita pendek, 3) unsur-unsur pembangun cerpen yang meliputi tema, amanat, alur atau plot, tokoh penokohan, latar atau setting, sudut pandang (point of view), gaya bahasa, 4) metode P2R, 5) model berpikir- berpasangan-berbagi, 6) pembelajaran membaca cerpen dengan metode P2R dan model  berpikir-berpasangan-berbagi.

2.1.1 Keterampilan Membaca Cerpen
Membaca merupakan  berbahasa  yang  sangat  bermanfaat.  Dengan membaca dapat diperoleh berbagai informasi, gagasan, pendapat, pesan dan lain- lain yang disampaikan penulis melalui lambang-lambang grafis yang sudah dikenal. Dengan kata lain melalui kegiatan membaca akan diperoleh berbagai informasi dunia. Download ptk bahasa indonesia smp pdf 
Keterampilan membaca sangat penting bagi siapa saja terutama bagi peserta didik atau pelajar. Keterampilan membaca tidak hanya sangat diperlukan bagi sekolah menengah maupun diperguruan tinggi melainkan setelah selesai perguruan tinggi dan bertugas dimanapun masih tetap diperlukan. Wallter Pauk dari Universitas Carnell menggolongkan keteraampilan membaca sebagai keterampilan pokok yang terus-menerus diperlukan (The Basic On-Going skill).

Setiap guru bahasa haruslah menyadari serta memahami  benar-benar bahwa membaca adalah suatu keterampilan yang kompleks, yang rumit, yang mencakup  atau  melibatkan  serangkaian  keterampilan-keterampilan  yang  lebh kecil. Dengan kata lain keterampilan membaca mencakup tiga komponen yaitu (1) pengenalan terhadap aksara serta tanda baca; (2) korelaasi aksara beserta tanda- tanda baca dan unsur-unsur intrinsik yang formal; (3) hubungan lebih lanjut antara 1 dan 2 dengan makna atau meaning.

Keterampilan membaca merupakan suatu  kesinambungan  yang berlangsung secara berangsur-angsur berproses dari yang sederhana hingga yang lebih kompleks. Membaca adalah suatu proses yang sangat rumit dan unik pula sifatnya. Keunikanya terletak pada banyaknya serta  beraneka  ragamnya  faktor yang bekerja dalam proses membaca itu dan bertautnya faktor yang satu dengan yang lainya. Keunikannya terletak pada relatif berbeda-bedanya proses membaca itu berlangsung pada setiap pembaca. Faktor yang melatarbelakangi bermacam- macamnya pengertian membaca yang lain adalah pendekatan yang digunakan dalam merumuskan tersebut dengan menggunakan teori serta pendekatan dan pemilihan aspek permasalahan yang berbeda, juga adanya penemuan. Penemuan baru dalam studi membaca.

Dalam membaca cerpen diperlukan pemahaman dalam membaca. Keterampilan dalam membaca pemahaman yaitu masalah menangkap makna kalimat, menangkap gagasan utama paragraf, menangkap  ide  penjelas  paragraf serta menangkap isi bacaan (Depdikbud 1984:70).  Membaca  pemahaman biasanya dilakukan dengan teknik membaca dalam hati.  Menurut  Tarigan (1986:24) membaca dalam hati adalah jenis membaca tanpa suara yang bertujuan memahami isi bacaan  yang dibaca. Membaca pemahaman  dapat dikuatkan sebagai suatu proses yang kompleks, sebab dalam membaca pemahaman pembaca melibatkan sejumlah keterampilan. Hakikat membaca cerpen sebagai karya senia adalah menghaluska budi pekerti siswa dengan memperoleh hikmah dari cerpen yang dibaca. Selain itu manfaat lain dapat menambah pembendaharaan kata atau kalimat, mengetahui kata atau kalimat untuk mengungkapkan perasaan, ide, atau gagasan serta emosinya.

2.1.2 Pengertian  Cerita Pendek
Cerita pendek tidak ditentukan oleh banyaknya  halaman  untuk mewujudkan cerita tersebut atau banyak sedikitnya tokoh dalam cerita itu, melainkan lebih disebabkan oleh ruang lingkup permasalahan yang ingin disampaikan oleh bentuk karya sastra tersebut. Download ptk bahasa indonesia smp kurikulum 2013 Jadi sebuah cerita yang pendek belum tentu digolongkan kedalam jenis cerita prapendek jika ruang lingkup dan permasalahannya yang diungkapkan tidak memenuhi  persyaratan  yang  dituntut oleh cerita pendek. (Suharianto 1982:39). Selanjutnya Suharianto (1982:39) juga menambahkan bahwa “cerita pendek biasanya adalah wadah yang biasanya dipakai oleh pengarang untuk menyuguhkan sebagian kecil saja dari kehidupan tokoh yang paling  menarik  perhatian pengarang”. Jadi sebuah  cerita senantiasa memusatkan perhatiannya pada tokoh utama dan permasalahannya yang paling menonjol dan menjadi tokoh cerita pengarang, dan juga mempunyai efek tunggal, karakter, alur dan latar yang terbatas. Cerpen memuat penceritaan kepada satu peritiwa pokok, peristiwa pokok itu tidak  selalu  “sendirian”  ada  peristiwa  lain yang sifatnya mendukung peristiwa pokok.

2.1.3 Unsur-unsur  Pembangun Cerpen
Cerpen tersusun atas unsur-unsur pembangun cerita yang saling berkaitan erat antara satu dengan yang lainnya. Berkaitan antara unsur-unsur pembangun cerita tersebut membentuk totalitas yang bersifat abstrak, koherensi dan keterpaduan semua unsur cerita yang membentuk sebuah totalitas amat menentukan keindahan dan keberhasilan cerpen sebagai suatu bentuk ciptaan sastra. Unsur-unsur dalam cerpen terdiri atas: tema, amanat, alur atau plot, tokoh dan penokohan, latar (setting), sudut pandang (point of view), dan gaya bahasa.

2.1.3.1 Tema
Cerpen harus mempunyai tema atau dasar. Dasar itu adalah tujuan dari cerpen itu, dengan dasar ini pengarang dapat melukiskan watak-watak dari orang yang diceritakan dalam cerpen itu dengan maksud yang tertentu, demikian juga segala kejadian yang dirangkaikan berputar kepada dasar itu.
Menurut Stanton (dikutip oleh Nurgiyantoro 2005:70) tema sebagai makna sebuah cerita yang secara khusus menerangkan sebagian besar unsurnya dengan cara yang sederhana. Tema suatu karya sastra dapat tersurat dan dapat pula tersirat. Disebut tersurat apabila tema tersebut dengan jelas dinyatakan oleh pengarangnya. Disebut tersirat apabila tidak secara tegas dinyatakan, tetapi terasa dalam keseluruhan cerita yang dibuat pengarang.

Unsur lain yang dapat kita peroleh sewaktu berusaha  memahami  tema cerita adalah unsur pokok pikiran atau subject matter. Melalui pemahaman terhadap pokok pikiran tersebut pada langkah lebih lanjut kita akan dapat mememukan nilai-nilai ditaktis yang berhubungan dengan masalah manusia dan kemanusiaan serta hidup kehidupan. Untuk mementukan nilai-nilai yang terkandung di dalam prosa fiksi tidaklah mudah. Prosa fiksi  itu  harus  dibaca secara sungguh-sungguh dan disikapi secara kritis. Perhatian pembaca tidak boleh hanya diarahkan pada jalan ceritanya saja semua kata dan kalimat harus benar- benar dirasakan dan diresapi sebab penyampaian nilai-nilai dalam prosa fiksi berbeda dengan karangan tentang ajaran budi, misalnya. Penyampaian nilai-nilai dalam prosa fiksi bukan secara tersurat melainkan secara tersirat.

2.1.3.2 Amanat
Waluyo (2003:40) mengungkapkan amanat, pesan, nasehat merupakan kesan yang ditangkap pembaca setelah membaca cerpen. Amanat dirumuskan sendiri oleh pembaca. Cara menyimpulkan amanat cerpen sangat berkaitan dengan   cara   pandang   pembaca   terhadap   suatu   hal.   Meskipun ditentukan berdasarkan cara pandang pembaca, amanat tidak lepas dari tema dan isi cerpen yang dikemukakan penulis. Contoh ptk bahasa indonesia smp doc

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa amanat merupakan makna tersirat yang disampaikan penulis dalam cerpennya. Secara ringkas, unsur-unsur yang membangun gaya seorang pengarang meliputi 1) unsur  leksikal,  2) gramatikal, dan 3) sarana retorika. Unsur leksikal menyangkut diksi, yakni penggunaan kata-kata yang sengaja dipilih pengarang. Unsur gramatikal menyangkut struktur kalimat yang digunakan pengarang dalam cerita rekaan yang ditulisnya. Adapun sarana retorika meliputi penggunaan pencitraan, bahasa kita, dan penyiasatan struktur.

2.1.3.3 Alur atau Plot
Nurgiantoro (2005:68) mengatakan alur berkaitan dengan masalah urutan penyajian cerita beserta urutan kejadian yang memperlihatkan tingkah laku tokoh dalam aksinya. Alur merupakan aspek utama yang harus dipertimbangkan karena aspek ini yang menentukan menarik tidaknya cerita atau memiliki kekuatan untuk mengajak pembaca secara total untuk mengikuti cerita. Alur membuat segala sesuatu yang dikisahkan bergerak dan terjadi. Alur menghadirkan  cerita  yang dicari untuk menikmati atau untuk dibaca.

Suharianto (2005:18) mendefinisikan alur sebagai jalinan peristiwa secara beruntun dalam sebuah prosa fiksi yang memperhatikan hubungan seban akibat sehingga cerita itu merupakan keseluruhan yang padu, bulat, dan utuh. Alur menuntut kemampuan utama pengarang untuk menarik minat pembaca. Kemenarikan tersersebut terbentuk melalui jalinan peristiwa-peristiwa secara menyeluruh, padu, bulat, dan utuh sehingga cerita tersebut menjadi indah.

Jadi alur dalam cerita yaitu jalinan peristiwa  dalam  sebuah  prosa  fiksi yang memperhatikan hubungan sebab akibat sehingga cerita itu meriupakan keseluruhan yang padu, bulat, dan utuh.
2.1.3.4 Tokoh dan Penokohan
Cerita sastra merupakan cerita yang mengisahkan kehidupan manusia dengan segala serbaneka kehidupannya. Dengan pemahaman tersebut tentulah diwajibkan adanya tokoh sebagai perwujudan dari manusia  dan  kehidupannya yang akan diceritakan. Tokoh dalam cerita ini akan melakukan tugasnya menjadi “sumber cerita”. Tokoh merupakan benda hidup (manusia) yang memiliki fisik dan memiliki watak.

Penokohan ialah pelukisan mengenai tokoh cerita; baik keadaan lahirnya maupun batinnya yang dapat berupa pendangan hidupnya, sikapnya, keyakinannya, adat-istiadatnya, dan sebagainya. (Suharianto 1982:20).

2.1.3.5 Latar atau Setting
Suharianto (2005:22) menyatakan bahwa setting atau yang biasa disebut latar yaitu waktu terjadi cerita. Suatu cerita hakikatnya tidak lain adalah lukisan peristiwa atau kejadian yang menimpa atau dilakukan oleh  satu  atau  beberapa orang tokoh pada suatu waktu disuatu tempat. Latar dalam sebuah cerita tidak hanya sebagai petunjuk kapan dan dimana peristiwa itu terjadi, melainkan juga sebagai tempat pengambilan nilai-nilai pengarang melalui ceritanya tersebut.

Latar atau setting adalah peristiwa dalam karya fiksi, baik berupa tempat, waktu, maupun peristiwa, serta memiliki fungsi fisikal dan fungsi psikologis (Aminuddin 2004:67). Abrams (dikutip oleh Nurgiyantoro 2005:216) menambahi bahwa latar atau setting yang disebut juga sebagai landas tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan.

Istilah latar adalah terjemahan dari istilah Inggris setting. Suatu cerita terjadi di suatu tempat dan pada waktu tertentu. Latar adalah gambaran tentang tempat, waktu atau masa, dan kondisi sosial terjadinya cerita. Itu berarti bahwa latar terdiri atas latar tempat, latar waktu, dan latar sosial. Latar tempat menunjuk pada tempat atau lokasi terjadinya cerita. Latar waktu atau masa menunjuk pada kapan atau bilamana cerita itu terjadi. Latar sosial menunjuk pada kondisi sosial yang melingkupi terjadinya cerita (Nuryatin 2010:13).

Pengarang menampilkan latar cerita sedemikian rupa sehingga latar tidak hanya sekadar sebagai petunjuk tetapi juga  menjadi  tempat  pengambilan  nilai- nilai yang ingin diungkapkan oleh pengarang melalui cerita tersebut. Jadi seting atau latar yaitu tempat atau waktu terjadinya cerita. Setting atau latar dalam prosa fiksi meliputi segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan tempat, waktu, dan lingkungan terjadinya peristiwa dalam cerita.

2.1.3.6 Sudut Pandang (point of view)
Sudut pandang merupakan cara memandang yang digunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar,  dan  sebagai  peristiwa yang berbentuk cerita (Suharianto 2005:25). Pada hakikatnya sudut pandang merupakan strategi, teknik, atau siasat yang secara sengaja  dipilih  pengarang untuk mengemukakan gagasan dalam ceritanya (Haryati 2007: 34).
Sudut pandang orang ketiga, peristiwa berada di luar cerita. Dalam kisahnya pencerita mengacu pada tokoh-tokoh cerita dengan menggunakan kata ganti orang ketigga (ia, dia), atau menyebut nama tokoh. Sudut pandang orang ketiga mempunyai dua kemungkinan. Yang pertama. Orang ketiga maha tahu apa bila pencerita mengetahui dan dapat menceritakan segala sesuatu tentang tokoh dan peristiwa yang berlaku dalam cerit. Yang kedua, orang ketiga terbatas apabila pencerita hanya menceritakan apa yang diamati dari luar. Download ptk bahasa indonesia smp pdf

2.1.3.7 Gaya Bahasa
Suharianto (2005: 26) mengatakan bahwa gaya bahasa dalam karya sastra mempunyai fungsi ganda yaitu sebagai alat penyampaian maksud pengarang dan sebagai penyampaai perasaan. Artinya, melalui karya sastra seorang pengarang bukan hanya sekedar bermaksud memberitahukan kepada pembaca mengenai apa yang dilakukan  dan  dialami tokoh dalam ceritanya, melainkan  bermaksud pula untuk mengajak pembacanya untuk ikut merasakan apa yang dilakukan oleh tokoh cerita. Demi tercapainya maksud tersebut pengarang menempuh cara-cara dengan jalan menggunakan   perbandingan-perbandingan,   menghidupkan   benda-benda mati, melukiskan atau menggambarkan sesuatu yang tidak sewajarnya, dan lain sebagai sehingga cerita terasa tersebut terasa hidup dan mengesankan. Dengan begitu, pembaca benar-benar merasakan keindahan dan karateristik seorang pengarang terhadap karya sastra yang ditulisnya.

2.1.4 Metode P2R
Metode P2R dalam pembelajaran yang dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu pertama apa yang diharapkan, dimaksud atau apa tujuan membaca, kedua yaitu rencana untuk mencapai tujuan. Tujuan yang sudah dirumuskan diusahakan untuk dicapai. Pada tahap ini pembaca menyusun strategi untuk mencapai tujuan membaca. Rencana yang dibuat berhubungan dengan teknik baca yang digunakan, bagian-bagian yang akan dibaca, dan rencana-rencana lainnya (misalnya mempersiapkan pensil untuk memberi tanda atau catatan), ketiga yaitu pelaksanaan membaca.

Metode P2R mempakan metode membaca yang terdiri atas tahap preview, read,  dan  review  yang  biasanya  digunakan  sebagian  besar  pembaca  cepat  dan efisien.  (Gordon,  2006:79).  Penjelasan  ketiga  tahap  dalam  metode  ini  adalah sebagai berikut:
1. Preview, adalah membaca sepintas untuk mengetahui struktur bacaan, pokok- pokok pikiran, relevansi, dan sebagainya. Pada tahap ini, pembaca melakukan pengenalan terhadap bacaan mengenai hal-hal yang pokok yang bersifat luaran. Setelah itu, pembaca memutuskan apakah perlu ke tahap selanjutnya (read) atau  tidak. Jika memang sudah tahu tentang bacaan, pembaca boleh saja menganggap tidak perlu membaca, jika belum tahu, pembaca melanjutkan tahap berikutnya.

2. Read, adalah membaca secepat cepatnya sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dan sesuai tingkat kesulitan bacaan. Tujuan umum membaca adalah mencari informasi yang ada dalam bacaan. Informasi bersifat pokok atau inti dan bias juga informasi bersifat tidak inti atau penjelas. Jika hanya ingin mengetahui yang pokok, pemhaca bisa hanya membaca secara sepintah (skimming) sehingga waktu yang dibutuhkan singkat. Namun jika ingin mengetahui semua informasi yang ada dalam bacaan, pembaca membaca dengan teliti. Walaupun membaca teliti, diusahakan membaca  secepat mungkin. Kecepatan baca juga bergantung pada bacaan. Bacaan yang sudah dikenal dapat dibaca secara cepat, sebaliknya bacaan yang belum  dikenal dibaca secara pelan. Bacaan yang bersifat inilah memerlukan waktu baca yang lebih lama dibandingkan bacaan yang bersifat populer.


3. Review, adalah membaca sepintas lain untuk memastikan tidak ada yang terlewatkan   dan   atau   untuk   memperkuat   ingatan   terhadap   pokok-pokok pikiran yang telah didapat dari tahap read. Pada tahap ini, pembaca membaca bacaan seperlunya saja seperti pada preview. Yang berbeda adalah tujuannya: jika preview untuk mengenai bacaan, sedangkan review untuk memantapkan kembali apa yang telah dipahami dan untuk mengecek apakah bacaan sudah dibaca sesuai tujuan.

Ketiga tahapan dalam metode ini tidak harus digunakan semua  secara tertib. Hal tersebut bergantung pada situasinya. Jika memang diperlukan, ketiga tahap itu digunakan secara tertib. Pada saat lain, pembaca tidak melakukan tahap preview karena pembaca sudah mengenai struktur materi bacaan. Bisa saja, pembaca tidak melakukan read. Ia hanya melakukan tahap preview dan review karena tidak ada hal-hal yang baru di dalam bacaan sehingga tidak perlu dibaca. Kemungkinan lain adalah pembaca tidak perlu melakukan review sebab pembaca sudah merasa tidak yakin ada yang terlewati dan sudah ingat semua tentang informasi yang diperolehnya.

2.1.5 Model  Berpikir-Berpasangan-Berbagi
Model berpikir-berpasangan-berbagi merupakan salah satu model pembelajaran inovatif yang berbasis kooperatif  atau  kerjasama.  Model  ini memberi siswa kesempatan untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain. Optimalisasi partisipasi dari siswa merupakan keunggulan dari model berpikir-berpasangan-berbagi. Siswa selain mengeluarkan kemampuan  individu juga mengembangkan kemampuannya bekerja sama dalam kelompoknya untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

Model ini pertama kali dikembangkan oleh Frank Lyman dari Universitas Maryland pada tahun 1985 (Think-Pair-Share) sebagai struktur kegiatan pembelajaran gotong royaong. Model ini memberikan siswa kesempatan untuk bekerja sendiri serta bekerjasama dengan orang lain. Think-Pair-Share atau berpikir-berpasangan-berbagi memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk memberi siswa waktu lebih banyak untuk berpikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain. Model Think-Pair-Share sebagai ganti dari tanya jawab seluruh kelas (Anita lie, 2010: 57).

Seperti namanya ‘Thinking’ atau berpikir pembelajaran  diawali  dengan guru mengajukan pertanyaan atau isu terkait dengan pelajaran untuk difikirkan oleh peserta didik. Guru memberi kesempatan kepada mereka memikirkan jawabanya. Selanjutnya ‘Pairing’ atau berpasangan guru meminta peserta didik berpasang pasangan. Download ptk bahasa indonesia smp kelas 9 doc Beri kesempatan pada pasangan-pasangan itu untuk berdiskusi. Diskusi ini diharapkan memperdalam jawaban  yang  telah difikirkannya melalui itersubjektif dengan pasangannya. Hasil diskusi intersubjektif di tiap-tipa pasangan hasilnya dibicarakan dengan pasangan seluruh kelas, tahap ini dikenal dengan ‘Sharing’ atau berbagi, sehingga pada akhirya diharapkan terjadi tanya jawab yang mendorog pengonstruksian pengetahuan secara integratif (Agus Suprijono, 2009 : 91).

Tahap utama dalam pembelajaran berpikir-berpasangan-berbagi menurut (Ibrahim Muslim dkk: 2000) adalah sebagai berikut :
Tahap 1: Berfikir
Guru mengajukan pertanyaan atau isu yang berhubungan dengan pelajaran kemudian siswa diminta untuk memikirkan pertanyaan atau isu tersebut secara mandiri untuk beberapa saat.
Tahap 2 : berpasangan
Guru meminta siswa berpasangan dengan siswa lain untuk mendiskusikan apa yang telah  dipikirkan  pada tahap  pertama. Dalam tahap  ini setiap  anggota pada kelompok membandingkan jawaban yang dianggap paling benar daan paling meyakinkan atau paling unik. Biasanya guru memberikan waktu 4-5 menit untuk berpasangan.
Tahap 3 : berbagi
Pada tahap akhir guru meminta kepada pasangan untuk berbagi dengan seluruh kelas, tentang yang menjadi topic pembicaraan. Keterampilan  berbagi dalam seluruh kelas dapat dilakukan dengan menunjukkan pasangan yang secara suka rela bersedia melaporkan hasil kerja kelompoknya atau bergiliran, pasangan demi pasangan hingga sekitar ¼ pasangan telah mendapatkan kesempatan untuk melaporkan.

2.1.6 Pembelajaran  Membaca  Cerpen  dengan  Metode  P2R  dan  Model Berpikir-berpasangan-berbagi
Pembelajaran adalah sesuatu yang dilakukan oleh guru, sehingga tingkah laku siswa berubah ke arah yang lebih baik. Kegiatan membaca memerlukan pemusatan perhatian, kecepatan dan ketepatan. Oleh karena  itu,  membaca dilakukan secara sadar dan berkemauan. Untuk menghasilkan keefektifan dalam pemahaman  dan  kemampuan  membaca  cerpen  dapat  menggunakan  model  dan teknik pembelajaran yang tepat (Darsono dalam Mufarichah 2006:33).
Pada dasarnya model dan teknik pembelajaran berupa keseluruhan rancangan untuk penyajian bahan atau materi pelajaran secara sistematis agar tercapai keberhasilan, serta didasarkan pada pendekatan yang dipilih. Dari uraian tersebut dapat dikatakan bahwa model dan teknik pembelajaran merupakan cara- cara penyajian yang digunakan guru dalam pembelajaran mencapai suatu tujuan tertentu. Pembelajaran membaca cerpen dengan menggunakan metode P2R dan model berpikir-berpasangan-berbagi. Penggunaan metode P2R diharapkan dapat meningkatkan kualitas kemampuan membaca pemahaman  peserta  didik. Sedangkan dengan model berpikir-berpasangan-berbagi diharapkan siswa menjadi termotivasi pada pembelajaran membaca cerpen karena bekerja dalam kelompok dan diharapkan dapat menciptakan kondisi aktif di dalam kelas.

Proses siswa membaca cerpen melalui penggunaan model berpikir- berpasangan-berbagi dengan bimbingan guru. Cara penerapan model berpikir- berpasangan-berbagi adalah 1) siswa membentuk kelompok berpasangan dengan teman sebangkunya, 2) guru memberikan teks cerpen kepada tiap siswa, masing- masing siswa mendapat satu teks cerpen yang judul cerpennya sama dengan pasangannya, 3) masing-masing siswa membaca teks cerpen 4) Setiap siswa memikirkan dan mengererjakan tugas untuk menemukan unsur intrinsik yang terdapat dalam cerpen tersebut, 5) siswa berpasangan dengan teman kelompoknya dan berdiskusi dengan pasangannya, 6) tiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas

Sedangkan cara penerapan metode P2R dilakukan saat setiap siswa membaca cerpen secara individual. Setiap siswa membaca cerpen terdiri dari beberapa tahap preview, read, dan review. Tahap preview, siswa membaca sepintas cerpen untuk mengetahui struktur bacaan, pokok-pokok  pikiran, relevansi, dan sebagainya. Tahap read, siswa membaca secepat mungkin sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dan sesuai tingkat kesulitan bacaan.  Tahap review, siswa membaca sepintas lain untuk memastikan tidak ada  yang terlewatkan dan atau untuk memperkuat ingatan  terhadap  pokok-pokok  pikiran yang telah didapat dari tahap read.

Berdasarkan hal tersebut model berpikir-berpasangan-berbagi diyakini dapat digunakan sebagai upaya meningkatkan keterampilan membaca cerpen dengan metode P2R. Penggunaan model ini dapat membantu siswa untuk bekerja sama sekaligus mandiri. Siswa yang merasa kurang mampu menjadi mampu karena adanya kerja sama dengan teman.

2.2 Kerangka Berpikir
Pembelajaran seni membaca cerpen kepada hakikat membaca cerpen yaitu menangkap pikiran dan perasaan pengarang yang terdapat dalam cerpennya. Kenyataan yang ada dalam pembelajaran seni membaca cerpen belum memenuhi tujuan yang akan dicapai. Pada umumnya siswa belum mampu memahami  isi cerpen dengan baik. Masalah-masalah yang timbul antara lain: (1) penghayatan isi cerita pendek yang masih kurang;  (2) cara memahami cerpen kurang; (3) siswa tidak dapat menentukan unsur-unsur intrinsik dalam cerpen.

Upaya mengatasi masalah tersebut dapat dilakukan dengan memberikan latihan dasar dalam pembelajaran membaca cerpen melalui metode P2R dalam model berpikir-berpasangan-berbagi. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk membaca cerpen untuk mengetahui pengaruh metode yang sudah dilaksanakan. Setelah membaca cerpen, guru atau siswa memberikan tanggapan mengenai isi cerpen tersebut berdasarkan karakteristik cerpen, sehingga pemahaman yang kurang dapat diminimalkan sampai titik yang paling rendah. Contoh ptk bahasa indonesia smp kelas 9 pdf 

Jadi dalam pembelajaran ini, pada siklus I dilakukan persiapan pembelajaran membaca cerpen, yaitu  dengan  menyusun  perencanaan pembelajaran, mempersiapkan materi, mempersiapkan instrument tes dan nontes, serta segala sesuatu yang dibutuhkan dalam penelitian ini. Pada siklus II akan dilakukan suatu perbaikan-perbaikan dan penyempurnaan mulai dari perencanaan sampai refleksi. Proses penelitian tindakan kelas dalam silkus II yang terdiri atas perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi ini pada dasarnya sama seperti pada siklus I, tetapi ada beberapa perbedaan kegiatan pembelajaran pada siklus I.

2.3 Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kerangka berpikir di atas, hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah kemampuan membaca cerpen siswa akan menjadi lebih baik, peningkatan  keterampilan  pembelajaran  membaca  cerpen  pada  siswa  menjadi meningkat, dan akan terjadi perubahan yang positif  pada perilaku siswa kelas 9.1 SMPN 2 ..., jika proses belajar mengajar dengan menggunakan metode P2R dan model berpikir-berpasangan-berbagi.


DOWNLOAD PTK BAHASA INDONESIA SMP TERBARU

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian
Desain penelitian ini menggunakan prosedur penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas hanya memusatkan  pada  permasalahan  yang  spesifik dan kontekstual. Penelitian tindakan kelas dilaksanakan secara tematik dengan mengikuti prosedur atau langkah-langkah tertentu.
Penelitian ini menggunakan desain (PTK) dengan dua siklus, yaitu proses tindakan pada siklus I dan siklus II, setiap siklus dilaksanakan melalui empat tahap. Empat tahap ini adalah tahap perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Berikut bagian bagan untuk menggambarkan rangkaian siklus dan masing-masing tahapnya.
Gambar 1 Siklus Penelitian Tindakan Kelas
Keterangan
K = Kondisi awal R = Refleksi
P = Perencanaan RP = Revisi perencanaan 
T = Tindakan O = Observasi
Penelitian tindakan kelas ini dilakukan dua siklus. Siklus I dilakukan untuk mengetahui keterampilan membaca cerpen pada tahap awal tindakan penelitian. Siklus ini sekaligus digunakan sebagai refleksi untuk melakukan siklus II. Siklus II digunakan untuk  mengetahui  peningkatan  keterampilan  membaca  cerpen setelah dilakukan perbaikan-perbaikan terhadap pelaksanaan proses belajar mengajar yang didasarkan pada siklus I. Namun sebelum diadakan siklus I, observasi awal dilakukan agar dapat mengetahui kondisi siswa di dalam kelas dan kesulitan-kesulitan apa saja yang dialami oleh siswa.Contoh ptk bahasa indonesia smp doc  Berdasarkan penjelasan di atas akan dipaparkan prosedur tindakan pada siklus I adalah sebagai berikut.

3.1.1 Proses Tindakan  Siklus I
Siklus I terdiri atas empat tahap yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Proses penelitian tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

3.1.2 Perencanaan Siklus I
Tahap perencanaan ini berupa kegiatan awal menentuan langkah-langkah yang akan dilakukan penelitian untuk memecahkan masalah yang akan dihadapi. Langkah ini merupakan upaya untuk memperbaiki kelemahan dalam proses pembelajaran membaca cepat selama ini. Rencana kegiatan yang akan dilakukan adalah (1) menyiapkan materi pembelajaran yang akan diajarkan, (2) menyusun rencana pembelajaran (RPP) membaca cerpen dengan metode P2R dan model berpikir-berpasangan-berbagi, (3) menyusun dan menyiapkan instrumen  nontes yang berupa observasi, jurnal, wawancara dan dokumentasi foto, (4) menyiapkan media pembelajaran, (5) menyusun dan menyiapkan lembar kriteria penilaian tes, dan (6) berkolaborasi dengan guru mata pelajaran dan dibantu teman, serta siswa kelas 9.1. Rencana pembelajaran ini digunakan sebagai program kerja atau pedoman penelitian dalam melaksanakan proses belajar mengajar agar tujuan pembelajaran dapat tercapai

Rencana pelaksanaan ini dilakukan sebagai program kerja atau pedoman peneliti dalam melaksanakan proses belajar agar pembelajaran dapat tercapai. Semua perencanaan dikonsultasikan terlebih  dahulu  dengan  dosen  pembimbing dan guru mata pelajaran bahasa Indonesia di SMPN 2 ....

3.1.3 Tindakan Siklus I
Tindakan yang dilakukan peneliti secara garis besar adalah melaksanakan pembelajaran   membaca   cerpen   dengan   metode   P2R   dan   model   berpikir- berpasangan. Tindakan ini dilakukan dalam satu kali pertemuan yang terbagi atas tiga tahap yaitu tahap awal, inti, dan penutup.
Pada tahap awal guru memberikan apersepsi agar siswa siap mengikuti pembelajaran dengan baik. Kemudian  guru  mengutarakan  tujuan  pembelajaran dan manfaat yang diperoleh siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran membaca cerpen. Selanjutnya guru mengarahkan pemahaman siswa tentan cerpen dan unsur intrinsik cerpen.

Tahap inti pembelajaran. Kegiatan inti pembelajaran dilakukan  dengan tahap - tahap sebagai berikut : 1) siswa diberi penjelasan materi cara membaca cerpen dengan metode P2R, 2) siswa diberi kesempatan untuk berlatih membaca cerpen di dalam buku teks dengan metode P2R, 3) siswa membentuk kelompok berpasangan dan dibagikan teks cerpen oleh guru, 4) siswa membaca teks cerpen dengan metode P2R, 5) siswa berpikir dan mengerjakan tugas menceritakan kembali isi cerpen dan menemukan unsur intrinsik dalam cerpen, 6) siswa berpasangan dengan rekan kelompoknya dan  mendiskusikan unsur intrinsik bersama, 7)  siswa berbagi dan bergilir mewakili masing-masing kelompok membacakan hasil diskusi di depan kelas, 8) siswa diberi penguatan jawaban oleh guru setelah semua kelompok membacakan hasil diskusi, 9) siswa mengajukan kendala membaca cerpen dengan metode P2R dan model berpikir-berpasangan- berbagi, 10) Guru bersama siswa bertanya jawab meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan  dan penyimpulan.

Tahap akhir meliputi beberapa bagian, meliputi: 1) siswa menjawab pertanyaan  guru   secara  lisan  untuk   mengetahui  tanggapan  siswa   mengenai pembelajaran membaca cerpen dengan metode P2R dan model berpikir- berpasangan-berbagi, 2) guru memberi penguatan terhadap simpulan  yang diberikan oleh para siswa, 3) guru dan siswa merefleksi pembelajaran membaca cerpen yang baru berlangsung, 4) pemberian tugas kepada siswa untuk berlatih membaca cerpen dengan metode P2R.

3.1.4 Observasi Siklus I
Melalui pedoman observasi, peneliti mengamati tingkah laku siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Aspek-aspek yang diamati adalah sikap positif dan negatif siswa pada saat pembelajaran membaca cerpen.
Aspek yang diamati dalam proses pembelajaran meliputi: 1) intensifnya proses internalisasi penumbuhan minat siswa untuk membaca cerpen, 2) kondusifnya proses membaca cerpen dan menemukan unsur intrinsik cerpen, 3) kondusifnya proses diskusi berpasangan dalam menemukan unsur intrinsik, 4) kondusifnya kondisi siswa saat memaparkan hasil diskusi di depan kelas, (5) terbangunnya suasana yang reflektif sehingga siswa bisa menyadari kekurangan saat proses pembelajaran dan mengetahui apa yang akan dilakukan setelah proses pembelajaran.

Aspek-aspek yang diamati pada perubahan perilaku antara lain: 1) keantusiasan siswa saat mengikuti proses pembelajaran, 2) keaktifan siswa dalam merespon, bertanya, dan menjawab pertanyaan yang disampaikan oleh guru pada kegiatan pembelajaran, 3) tanggung jawab siswa terhadap tugas yang diberikan oleh guru. Pada tahap observasi ini, peneliti dan guru memberikan tanda chek list (√)   pada   lembar   observasi   berdasarkan   pengamatan   proses   pembelajaran berlangsung.

3.1.5 Refleksi Siklus I
Pada tahap ini dilakukan kegiatan menganalisis tes, hasil observasi, hasil jurnal, dan hasil wawancara. Setelah dianalisis akan terlihat permasalahan atau muncul pemikiran baru yang memerlukan tindakan baru, sehingga perlu muncul perencanaan ulang pada siklus II. Download ptk bahasa indonesia smp pdf
Hasil refleksi siklus I menunjukkan nilai rata-rata kelas untuk keterampilan membaca cerpen belum mencapai standar ketuntasan minimal 70. Nilai rata-rata kelas baru mencapai 67,44. Masih ada beberapa siswa belum dapat menceritakan kembali isi cerpen dengan baik dan menemukan unsur intrinsik dengan maksimal. Siswa banyak yang belum bisa mengefektifkan waktu dalam mengerjakan tugas. Kurangnya kerja sama siswa dalam tahap “berbagi” menyebabkan belum tercapainya skor yang ditargetkan. Pemahaman beberapa siswa mengenai unsur-unsur intrintrinsik belum maksimal karena beberapa siswa ada yang tidak memperhatikan guru seperti bercanda dengan teman sebangku, melamun, dan bermalas-malasan.

3.1.6 Proses Tindakan Siklus II
Proses tindakan siklus II merupakan kelanjutan dari siklus I. Hal-hal yang kurang tepat pada siklus I diperbaiki pada siklus II. Tahap-tahap pada siklus II adalah perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi.
3.1.7 Perencanaan Siklus II
Perencanaan yang dilakukan pada siklus II merupakan perbaikan dari perencanaan pada siklus I. Siklus I dapat digunakan  sebagai  refleksi  terhadap siklus II. Siklus II digunakan untuk memperbaiki tindakan-tindakan yang masih kurang pada siklus I, sehingga pada siklus II akan terjadi  peningkatan keterampilan siswa dalam membaca cerpen dengan metode P2R dan model berpikir-berpasangan-berbagi.
Perbaikan yang dilakukan yaitu pada  kegiatan  awal  setelah mengkondisikan siswa guru mengulas kembali unsur-unsur intrinsik  denggan siswa kemudian melakukan ice breaking agar siswa tidak bosan. Kemudian pada bagian mengerjakan tugas guru lebih aktif lagi membimbing dan mendampingi siswa.

3.1.8 Tindakan Siklus II
Tindakan yang dilakukan oleh peneliti untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam membaca cerpen adalah dengan perencanaan yang telah disusun. Tindakan yang dilakukan peneliti secara garis besar adalah proses pembelajaran membaca cerpen dengan model P2R dan model berpikir-berpasangan-berbagi. Tindakan ini dilakukan dalam satu kali pertemuan yang terbagi atas tiga tahap yaitu tahap awal, inti, dan penutup.
Pada kegiatan awal: (1) guru mengecek kesiapan siswa dan apersepsi, (2) guru melakukan ice breaking, 3) guru mengulas sejenak hasil membaca cerpen siklus I.

Tahap inti pembelajaran. Kegiatan inti pembelajaran dilakukan  dengan tahap - tahap sebagai berikut: (1) guru memberikan pemecahan kesulitan yang dirasakan siswa dalam membaca cerpen. Siswa diberi penjelasan secara intensif tentang hal-hal yang belum dipahami, guru juga mengingatkan siswa untuk memperhatikan membaca cerpen dengan metode P2R dan materi memahami isi cerpen serta menemukan unsur intrinsik sesuai dengan target yang hendak dicapai, 

2) siswa dan guru bertanya jawab dengan siswa mengenai unsur-unsur intrinsik, 3) siswa membentuk kelompok berpasangan dan dibagikan teks cerpen oleh guru, 4) siswa membaca teks cerpen dengan metode P2R, 5) siswa berpikir dan mengerjakan tugas menemukan unsur intrinsik dalam cerpen, 6) siswa berpasangan dengan rekan kelompoknya dan mendiskusikan unsur intrinsik bersama, 7) siswa dipantau oleh guru dalam mengerjakan tugas, 8) siswa berbagi dan bergilir mewakili masing-masing kelompok membacakan hasil diskusi  di depan kelas, 

8) siswa diberi penguatan jawaban oleh guru setelah semua kelompok membacakan hasil diskusi, 9) siswa mengajukan pertanyaan tentang kendala membaca cerpen dengan metode P2R dan model berpikir-berpasangan- berbagi, 10) guru bersama siswa bertanya jawab meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan  dan penyimpulan. Download ptk bahasa indonesia smp kurikulum 2013

Tahap akhir meliputi beberapa bagian, meliputi: 1) siswa menjawab pertanyaan guru secara lisan untuk mengetahui tanggapan siswa mengenai pembelajaran membaca cerpen dengan metode P2R dan model berpikir- berpasangan-berbagi, 2) guru memberi penguatan terhadap simpulan  yang diberikan   oleh   para   siswa,   3)   guru   dan   siswa   merefleksi   dan   evaluasi
pembelajaran membaca cerpen yang baru berlangsung, 4) guru menutup pelajaran dengan memberikan nasihat kepada siswa agar siswa giat berlatih membaca cerpen.

3.1.9 Observasi siklus II
Observasi yang dilakukan pada siklus II hampir sama dengan pelaksanaan observasi pada siklus I. Melalui pedoman observasi, peneliti mengamati tingkah laku siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung.
Aspek yang diamati dalam proses pembelajaran meliputi: 1) intensifnya proses internalisasi penumbuhan minat siswa untuk membaca cerpen, 2) kondusifnya proses membaca cerpen dan menemukan unsur intrinsik cerpen, 3) kondusifnya proses diskusi berpasangan dalam menemukan unsur intrinsik, 4) kondusifnya kondisi siswa saat memaparkan hasil diskusi di depan kelas, (5) terbangunnya suasana yang reflektif sehingga siswa bisa menyadari kekurangan saat proses pembelajaran dan mengetahui apa yang akan dilakukan setelah proses pembelajaran.

Aspek-aspek yang diamati pada perubahan perilaku antara lain: 1) keantusiasan siswa saat mengikuti proses pembelajaran, 2) keaktifan siswa dalam merespon, bertanya, dan menjawab pertanyaan yang disampaikan oleh guru pada kegiatan pembelajaran, 3) tanggung jawab siswa terhadap tugas yang diberikan oleh guru. Pada tahap observasi ini, peneliti dan guru memberikan tanda chek list (√) pada lembar observasi berdasarkan pengamatan proses pembelajaran berlangsung.

3.1.10 Refleksi Siklus II
Refleksi pada siklus II merupakan koreksi dan perenungan akhir dalam penelitian ini. Peneliti melakukan refleksi terhadap perubahan-perubahan perilaku dan peningkatan keterampilan menulis puisi pada setiap siswa dengan cara menganalisis hasil observasi terhadap siswa selama proses pembelajaran siklus II berlangsung. Refleksi pada siklus II dilakukan untuk mengetahui keberhasilan pelaksanaan perbaikan dan keefektifan penggunaan metode P2R dan model berpikir-berpasangan-berbagi dalam peningkatan membaca cerpen siklus  II. Refleksi dilakukan dengan menganalisis hasil tes keterampilan membaca cerpen dan hasil nontes yang dilakukan pada siklus II. Hasil nontes juga dianalisis untuk mengetahui perubahan perilaku siswa setelah mengikuti pembelajaran pada siklus II.
Hasil refleksi pembelajaran pada siklus II  menunjukkan  adanya peningkatan. Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya nilai  rata-rata kelas  yang sudah mecapai ketuntasan minimal 70. Nilai rata-rata kelas siklus I hanya mencapai 67,44 dan di siklus II meningkat menjadi 74,46.Contoh ptk bahasa indonesia smp doc 

Selanjutnya, berdasarkan hasil nontes yang terdiri atas  observasi,  jurnal guru dan siswa, wawancara, dan dokumentasi juga telah mencapai kriteria yang diharapkan. Berdasarkan hasil observasi, jurnal guru dan siswa, wawancara, dan dokumentasi sebagian besar siswa sudah menunjukkan perilaku positif yang mendukung pembelajaran. Siswa yang semula kurang berminat menjadi berminat dan lebih serius dan aktif  mengikuti pembelajaran  menulis puisi. Mereka lebih \termotivasi mengikuti pembelajaran sehingga  mempengaruhi hasil tes membaca cerpen menjadi lebih baik.

3.2 Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah siswa SMPN 2 ... kelas 9.1 dalam membaca cerpen. Peneliti memilih subjek penelitian keterampilan  siswa dalam membaca cerpen dengan metode P2R dan model berpikir-berpasangan- berbagi karena keterampilan membaca merupakan salah satu bagian dari empat keterampilan berbahasa. Peneliti memilih kelas 9.1 SMPN 2 ... sebagai subjek penelitian karena faktor-faktor berikut (1) keterampilan membaca pemahaman teks cerpen siswa kelas 9.1 berdasarkan tes  prasiklus  hasilnya masih rendah, (2) siswa kelas 9.1 SMPN 2 ... kurang berminat dan sedikit menyepelekan pembelajaran membaca cerpen untuk menemukan unsur intrinsik cerpen, (3) adanya perilaku negatif yang ditunjukkan siswa  kelas  9.1 dalam pembelajaran membaca cerpen. Permasalahan  keterampilan  membaca cerpen pada siswa kelas 9.1 SMPN 2 ... perlu segera dilakukan dengan melakukan perbaikan-perbaikan dalam hal pemilihan strategi pembelajaran sehingga siswa mampu mengembangkan keterampilan membaca cerpen secara maksimal. Variabel Penelitian

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini ada, yaitu (1) variabel keterampilan membaca cerpen, sebagai variabel terikat dan (2) variabel metode P2R dan model berpikir-berpasangan-berbagi sebagai variable bebas.

3.3 Variabel Keterampilan Membaca Cerpen
Keterampilan membaca cerpen dalam penelitian ini ditandai dengan siswa dapat membaca dan memahami unsur intrinsik ada ada dalam cerpen yang meliputi tema, amanat, alur atau plot, tokoh penokohan, latar (setting), sudut pandang (point of view), dan gaya bahasa. Target yang diharapkan  dari pembelajaran ini adalah siswa dapat mengungkapkan unsur-unsur pembangun cerpen (tema, amanat, alur, tokoh dan penokohan, latar, sudut pandang dan gaya bahasa).

Jenis cerpen yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis cerpen yang sesuai dengan karakter siswa pada tingkat SMP, yaitu cerpen dengan tema pendidikan dan kebudayaan yang mengandung suatu  amanat  yang  bermanfaat bagi masyarakat atau orang lain. Contoh kutipan cerpen dalam penelitian ini merupakan cerpen yang terbaru, sehingga siswa lebih tertarik dan tidak akan membosankan dalam proses pembelajaran. Dalam penelitian tindakan kelas ini, siswa membaca cerpen dengan menggunakan contoh kutipan cerpen  yang disediakan sebelumnya oleh guru. Dan siswa dapat dikatakan berhasil dalam membaca cerpen apabila telah mencapai nilai ketuntasan belajar sebesar 70 karena dalam penelitian ini ditentukan batas KKM yaitu 70, sedangkan secara klasikal siswa dianggap berhasil dalam mengapresiasi cerpen jika 70% dari jumlah siswa memperoleh nilai minimal 70.

3.3.1 Variabel Membaca Cerpen Melalui Metode P2R dan Model Berpikir- Berpasangan-Berbagi
Model pembelajaran adalah bentuk pembelajaran yang tergambar  dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru di kelas. Model pembelajaran yang menekankan pada penguasaan konsep dan/atau perubahan perilaku dengan mengutamakan pendekatan  deduktif.  Pembelajaran  dengan metode P2R dalam membaca cerpen meliputi kegiatan guru memberikan tahapan dalam membaca cerpen. Tahapan dalam metode P2R ini dilaksanakan pada masing-masing siklus yaitu siklus I dan siklus II. Download ptk bahasa indonesia smp pdf Dalam pembelajaran membaca cerpen dengan metode P2R diharapkan dapat meningkatkan  keterampilan membaca cerpen pada  siswa umumnya dan dapat  mengubah perilaku siswa ke arah yang lebih baik dalam proses pembelajaran membaca cerpen. Sedangkan penggunaan model berpikir-berpasangan-berbagi dalam pembelajaran membaca cerpen membantu siswa untuk kekerja sendiri serta berpartisipatif di dalam diskusi kelompok. Hal ini di harapkan agar siswa lebih dapat memahami unsur intrinsik dalam cerpen.

3.4 Indikator Kerja
Indikator kinerja dalam penelitian ini terdiri atas indikator data kuantitatif dan indikator data kuantitatif.
3.4.1 Indikator Data Kuantitatif
Dalam indikator ini, penilaian dilakukan berdasarkan tes tertulis. Indikator Data kuantitatif  penelitian  ini   adalah  ketercapaian   target  kriteria  ketuntasan minimal siswa yaitu nilai klasikal 70 dari 75% keseluran siswa. Tabel 1 berikut ini merupakan parameter tingkat keberhasilan siswa dalam pembelajaran membaca cerpen.

3.4.2 Indikator Data Kualitatif
Dalam indikator kualitatif, penilaian dilakukan atas dasar  teknik nontes. Indikator kualitatif untuk pembelajaran membaca cerpen dengan metode P2R dan model berpikir-berpasangan-berbagi mengenai proses pembelajaran dan perubahan perilaku siswa setelah  dilakukan  pembelajaran membaca  cerpen dengan metode  P2R  dan  model  berpikir-berpasangan-berbagi.  Proses pembelajaran tersebut yaitu: 1) intensifnya proses internalisasi penumbuhan minat siswa  untuk membaca  cerpen,  2)  kondusifnya  proses  membaca  cerpen  dan menemukan unsur intrinsik cerpen, 3) kondusifnya proses diskusi  berpasangan dalam menemukan unsur intrinsik, 4) kondusifnya kondisi siswa saat memaparkan hasil diskusi di depan kelas, (5) terbangunnya  suasana  yang  reflektif  sehingga siswa bisa menyadari kekurangan saat proses pembelajaran dan mengetahui apa yang akan dilakukan setelah proses pembelajaran.

Perilaku siswa yang menunjukkan perubahan ke arah positif antara lain :
1) keantusiasan siswa saat mengikuti proses pembelajaran.
2) keaktifan  siswa dalam merespon, bertanya, dan menjawab pertanyaan yang disampaikan oleh guru pada kegiatan pembelajaran,
3) tanggung jawab siswa terhadap tugas yang diberikan oleh guru.

3.5 Instrumen Penelitian
Pada penelitian ini, peneliti mengguakan instrumen atau  alat yang digunakan untuk mengumpulkan data instrumen tersebut adalah tes dan nontes berikut diuraikan tentang kedua instrumen tersebut.

3.6 Instrumen Tes
Penelitian ini diawali dengan pelaksanaan tes awal untuk mengetahui sejauh mana keterampilan siswa dalam membaca cerpen. Instrumen yang berupa tes essai yang berupa perintah untuk mengetahui unsur intrinsik. Pada instrumen tersebut digunaan pedoman penilaian yang dijadikan kriteria.
Tabel 2 Rubrik Penilaian Keterampilan Membaca Cerpen dengan Metode P2R dan Model Berpikir-Berpasangan-Berbagi
Keterangan :
1) Pemberian nilai untuk setiap aspek dilakukan dengan memberi tanda check list (√) pada kolom skala nilai yang dianggap cocok.
2) Skor = Skala Nilai x Bobot
3) Skala nilai :
1 = Kurang, bila keterampilan membaca cerpen siswa memenuhi kurang dari dua aspek penilaian
2   =   Cukup,  bila  keterampilan  membaca  cerpen  siswa  hanya  memenuhi  dua aspek penilaian
3 =   Baik,  bila  keterampilan  membaca  cerpen  siswa memenuhi  tiga  aspek penilaian
4 = Sangat Baik, bila keterampilan membaca cerpen siswa memenuhi semua asek penilaian

4) Perhatikan deskripsi setiap skala sebelum dan selama penilaian berlangsung.
5) Pembobotan dilakukan untuk membedakan tingkat kepentingan masing-masing aspekdan berfungs isebagai penggali angka skala yang diperoleh masing-masing aspek.
6) Penentuan nilai siswa berdasarkan standar nilai 200 dengan menjumlah skor Download ptk bahasa indonesia smp kelas 9 doc setiap aspek.
Pada tabel 3 berikut ini dapat dilihat aspek-aspek yang dinilai dengan skor maksimal dan kategori penilaian

Tabel 3 Daftar Rentang Skor Kriteria Penilaian Pemahaman Membaca Cerpen dengan Metode P2R dan Model Berpikir-Berpasangan- Berbagi

Tabel 4 Kriteria Penilaian Pemahaman Membaca Cerpen dengan Metode P2R dan Model Berpikir-Berpasangan-Berbagi

Tabel 4 menunjukkan bahwa kriteria penilaian keterampilan membaca cerpen siswa dengan metode P2R dan model berpikir-berpasangan-berbagi digolongkan ke dalam tujuh aspek penilaian yaitu tema, amanat, alur, tokoh dan penokogan, latar, sudut pandang dan gaya bahasa. Masing-masing aspek dinilai berdasarkan kriteria penilaian dengan kategori sangat baik, baik, cukup, dan kurang. Sedangkan rentan skor nilai seperti tabel berikut.
B   :Baik 
C   :Cukup
K   :Kurang

Tabel 6 Pendoman Penilaian Unsur Instrinsik
Pedoman   penilai   tersebut   menjadi   dasar   penilaian   bagi   tes keterampilan  membaca  cerpen  yang  dilakukan  pada  akhir  pembelajaran  pada siklus I dan siklus II. Tes keterampilan membaca cerpen dianggap berhasil jika rata-rata skor adalah sama dengan 70 yaitu berkategori baik. 

3.5.1 Instrumen Nontes
Instrumen nontes digunakan untuk mengetahui perubahan perilaku siswa, sikap   siswa   dalam   proses   pembelajaran,   serta   tanggapan   siswa   mengenai pembelajaran  yang  telah  dilakukan  selama  mengikuti  pembelajaran  membaca cerpen dengan metode P2R dan model berpikir-berpasangan-berbagi.
Dalam instrumen nontes pada penelitian ini ada beberapa alat yang digunakan dalam pengambilan data. Alat dalam pengambilan data tersebut antara lain lembar observasi, wawancara, dokumentasi, jurnal siswa dan guru. Dari alat pengambilan data tersebut digunakan untuk mengetahui perubahan perilaku dan Proses dalam  pembelajaran  membaca  cerpen  dengan  metode  P2R  danmodel berpikir-berpasangan-berbagi   yang   mewakili   beberapa   aspek   yang diamati.
Penggambaran keterkaitan antara penggunaaan instrumen pengambilan data dan aspek-aspek perubahan perilaku serta proses pembelajaran dapat digambarkan dalam tabel di bawah ini.

Tabel 8 Kisi-kisi Instrumen Nontes
Keterangan :
A. Proses Pembelajaran
1. Intensifnya proses internalisasi penumbuhan minat siswa untuk membaca cerpen.
2. Kondusifnya  proses  membaca  cerpen  dan  menemukan  unsur  intrinsik cerpen.
3. Kondusifnya   proses   diskusi   berpasangan   dalam   menemukan   unsur intrinsik.
4. Kondusifnya kondisi siswa saat memaparkan hasil diskusi di depan kelas.
5. Terbangunnya suasana reflektif pada akhir pembelajaran sehingga siswa bisa menyadari kekurangan saat proses pembelajaran dan mengetahui apa yang akan dilakukan setelah proses pembelajaran.

B. Perubahan Perilaku
1. Keantusiasan siswa saat mengikuti proses pembelajaran
2. Keaktifan siswa dalam merespon, bertanya, dan menjawab  pertanyaan yang disampaikan oleh guru pada kegiatan pembelajaran.
3. Tanggung jawab siswa terhadap tugas yang diberikan oleh guru.
3.5.2 Pedoman Observasi
Pedoman observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar pengamatan untuk siswa. Dengan observasi seluruh aktivitas siswa selama proses pengajaran akan terpotret. Lembar pengamatan  digunakan  untuk  mendapatkan data tentang perilaku dan respon siswa selama proses pembelajaran berlangsung pada siklus I dan siklus II.

Aspek yang diamati dalam proses pembelajaran meliputi: 1) intensifnya proses internalisasi penumbuhan minat siswa untuk membaca cerpen, 2) kondusifnya proses membaca cerpen dan menemukan unsur intrinsik cerpen, 3) kondusifnya proses diskusi berpasangan dalam menemukan unsur intrinsik, 4) kondusifnya kondisi siswa saat memaparkan hasil diskusi di depan kelas, (5) terbangunnya suasana yang reflektif sehingga siswa bisa menyadari kekurangan saat proses pembelajaran dan mengetahui apa yang akan dilakukan setelah proses pembelajaran. Aspek-aspek yang diamati pada perubahan perilaku antara lain: 1) keantusiasan siswa saat mengikuti proses pembelajaran, 2) keaktifan siswa dalam merespon, bertanya, dan menjawab pertanyaan yang disampaikan oleh guru pada kegiatan pembelajaran, 3) tanggung jawab siswa terhadap tugas yang diberikan oleh guru. Pada tahap observasi ini, peneliti dan guru memberikan tanda chek list (√) pada lembar observasi berdasarkan pengamatan proses pembelajaran berlangsung.

3.5.3 Pedoman Wawancara
Peneliti menggunakan pedoman wawancara untuk mendapatkan informasi yang berkaitan dengan pembelajaran membaca cerpen dengan menggunakan metode P2R dan model berpikir-berpasangan-berbagi. Wawancara tersebut dilakukan dengan teknik tanya jawab secara langsung terhadap siswa diluar jam pembelajaran. Wawancara dilakukan pada siswa berdasarkan hasil tes, yaitu siswa yang mendapat nilai baik, siswa yang mendapatkan nilai sedang dan siswa yang mendapatkan nilai kurang.
Dalam pedoman wawancara mengungkap beberap aspek, yaitu; 1) bagaimana perasaan siswa saat proses pembelajaran membaca cerpen dengan metode P2R dan model berpikir-berpasangan-berbagi, 2) apakah siswa tertarik mengikuti pembelajaran membaca cerpen dengan metode P2R dan model berpikir-berpasangan-berbagi, 3) bagaimana pendapat siswa tentang materi yang diajarkan oleh guru, 4) Adakah kesulitan yang siswa rasakan dalam pembelajaran membaca cerpen dengan metode P2R dan model berpikir-berpasangan-berbagi, 5) apa  manfaat  yang  anda  peroleh  dari  kegiatan  pembelajaran  membaca  cerpen dengan metode P2R dan model berpikir-berpasangan-berbagi.

3.6 Teknik Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan dua teknik pengumpulan data, yaitu teknik tes dan teknik nontes. Teknik tes digunakan untuk mengetahui keterampilan menulis puisi, sedangkan teknik nontes digunakan  untuk  mengetahui  respon  siswa terhadap metode P2R dan model berpikir-berpasangan-berbagi. Untuk memperoleh data tes ini dilakukan dengan cara siswa diminta membaca cerpen dengan metode P2R dan model berpikir-berpasangan-berbagi. Untuk memperoleh data nontes ini dilakukan dengan cara observasi, wawancara,  jurnal,  dan dokumentsi foto pada saat proses belajar mengajar berlangsung.

3.7 Teknik Tes
Teknik tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes essai  yang berupa perintah untuk menceritakan kembali isi cerpen dan menemukan unsur intrinsik. Pada instrumen tersebut digunakan pedoman penilaian yang dijadikan kriteria ini diawali dengan pelaksanaan tes awal untuk mengetahui sejauh mana keterampilan siswa dalam membaca cerpen metode P2R dan model berpikir- berpasangan-berbagi. Dalam penelitian ini tes diberikan pada siklus I dan siklus II.

3.7.1 Teknik Nontes
Teknik nontes dilakukan bertujuan mengetahui keadaan yang terjadi selama proses pembelajaran. Data diperoleh dari hasil instrumen nontes yang berupa observasi siswa, wawancara, jurnal guru, jurnal siswa, dan dokumentasi foto.
Observasi
Observasi digunakan untuk mengamati perubahan-perubahan tingkah laku siswa pada saat proses kegiatan pembelajaran menulis puisi. Observasi dilakukan pada semua siswa dengan mengamati tingkah laku yang muncul pada siswa. Tingkah laku ini sudah dituliskan pada lembar observasi siswa, peneliti tinggal memberi tanda cek list saja. Dalam penelitian ini, observasi digunakan untuk mengumpulkan data mengenai sikap dan tingkah laku siswa terhadap kegiatan pembelajaran membaca cerpen dengan metode P2R dan model berpikir- berpasangan-berbagi. Observasi dilakukan pada saat pembelajaran sedang berlangsung.

Jurnal Guru dan Siswa
Jurnal adalah buku catatan yang dimiliki oleh guru dan siswa dalam kegiatan pembelajaran. Dalam penelitian ini menggunakan jurnal guru dan jurnal siswa. Jurnal guru berisi untaian pendapat guru mengenai seluruh kejadian yang dianggap penting selama pembelajaran berlangsung dan dilakukan secara tertulis. Sedangkan  jurnal  siswa  berisi  pendapat  siswa  mengenai  proses  pembelajaran membaca yang telah berlangsung. Jurnal siswa diisi pada akhir pembelajaran membaca cerpen, tetapi pada awal pembelajaran siswa  diberitahu  bahwa  pada akhir pembelajaran seluruh siswa wajib menjawab pertanyaan dalam jurnal.

Wawancara
Wawancara dilakukan agar dapat mengetahui secara langsung dari siswa tentang proses pembelajaran yang telah berlangsung. Wawancara dilakukan setelah proses pembelajaran selesai. Semula guru menilai hasil tes  untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dengan kategori sangat baik, baik, cukup baik, dan kurang baik. Hal itu dijadikan sebagai  pedoman  untuk  menentukan siswa yang akan diwawancarai. Siswa yang akan diwawancarai adalah siswa dengan nilai tertinggi, siswa dengan nilai sedang, dan siswa dengan nilai terendah.

Dokumentasi Foto
Pengambilan gambar merupakan hasil pemotretan pada saat guru melakukan proses awal pembelajaran hingga guru mengakhiri pembelajaran. Dokumentasi foto digunakan untuk merekam tingkah laku siswa selama proses pembelajaran membaca cerpen. Foto yang diambil berupa aktivitas-aktivitas siswa selama mengikuti kegiatan pembelajaran. Foto yang sudah diambil selanjutnya dideskripsikan sesuai kondisi saat itu. Foto ini merupakan bukti-bukti otentik mengenai tingkah laku siswa pada saat pembelajaran membaca cerpen.Contoh ptk bahasa indonesia smp doc

Teknik Analisis Data
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik analisis data kuantitatif dan kualitatif.
Teknik Kuantitatif
Teknik kuantitatif digunakan untuk menganalisis data yang sifatnya kuantitatif. Data kuantitatif merupakan data dari hasil tes membaca cerpen melalui teknik latihan berjenjang pada siklus I dan siklus II. Dalam penelitian tindakan kelas ini peneliti menggunakan tes yang berkaitan dengan pembelajaran membaca cerpen, yaitu tes perbuatan. Tes ini digunakan untuk  mengetahui  keterampilan siswa dalam membaca cerpen. Hasil tes ditulis secara persentase dengan langkah- langkah sebagai berikut: (1) merekap nilai yang diperoleh siswa; (2) menghitung nilai komulatif dari tugas-tugas siswa; (3) menghitung nilai rata-rata;  (5) menghitung nilai persentase.
Persentase ditulis dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
NP = ∑N x 100%
R
Keterangan:
NP : Nilai Presentase
< N : Nilai komulatif yang diperoleh siswa 
R : Jumlah responden dalam satu kelas
Hasil perhitungan nilai siswa dari masing-masing tes ini kemudian dibandingkan, yaitu antara tes siklus I dan hasil siklus II. Hasil ini akan memberikan gambaran mengenai presentase peningkatan kompetensi siswa dalam membaca cerpen melalui teknik P2R dan model  berpikir-berpasangan-berbagi. 

Teknik Kualitatif
Teknik kualitatif digunakan untuk menganalisis data kualitatif. Data kualitatif dapat diperoleh dari data nontes yaitu observasi, wawancara, jurnal, dan dokumentasi foto. Data yang diperoleh dari siklus I dan siklus II dibandingkan dengan cara melihat hasil tes  dan nontes. Dengan cara  seperti  ini,  maka  akan dapat diketahui adanya perubahan perilaku siswa  dan  peningkatan  dalam membaca cerpen dengan metode P2R dan model berpikir-berpasangan-berbagi.


REFRENSI PTK BAHASA INDONESIA KELAS VIII 

DAFTAR PUSTAKA


Aminuddin. 2004. Pengantar Apresiasi Sastra. Bandung: Sinar Baru Algensido. Arikunto, Suharsini, dkk. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Sinar Baru
Atmazaki. 1990. Ilmu Sastra Teori dan Terapan. Padang: Angkasa Raya.
Baribin, Raminah. 1985. Teori dan Apresiasi Prosa Fiksi. Semarang: IKIP Semarang Press.
Firdaus, Zulfathur Z dkk. 1986. Buku Materi Pokok Analisis dan Rangkuman Bacaan Sastra. Jakarta: Universitas Terbuka.
Harjasarjana, Ahmad Selamet dan Yeni Mulyati . 1997. Membaca 2. Jakarta: Depdikbud.
Haryadi.  2006.  Retorika  Membaca  model,  Metode,  Dan  Teknik.  Semarang  : Rumah Indonesia.
Hardjono,   Sartinah.   1988.   Prinsip-prinsip   Pengajaran   Bahasa   dan   Sastra.
Jakarta: Depdiknas.
Hartono, Bambang.  2006. Panduan  Penyusunan Kurikulum  Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Semarang.
Hastuti, Sri. 1996. Strategi Belajar Mengajar Bahasa Indonesia. Jakarta: Depdiknas.
Ibrahim, Muslim . dkk. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya : University Press.
Lie, Anita. 2010. Cooperative Learning.  Jakarta:  Grafindo.
Lipec. 2003. Good and Poor Readers – What Can We Learn from the Structural Analysis of Their Reading Comprehension. International Journal for Teachers  of  Reading  Skills.  Volume  III,  Number  3  (Online).  http:
//iteslj.org/. Diunduh tanggal 13 Febuari 2012.
Niko  dan  Rafa.  2004.  Panduan  Menulis  Fiksi  untuk  Pemula.  Yogyakarta; Platinum.
Nursisto.  2000.  Ikhtisar  Kesusastraan  Indonesia.  Yogyakarta:  Adicita  Karya Nusa.
Nurgiantono,  Burhan.  1994.  Teori  Pengajaran  Fiksi.  Yogyakarta:  Gajah  Mada University Press.
Parkamin, Amron dan Noor Bari. 1973. Pengantar Sastra Indonesia. Bandung: CV. Sulita.
Rahmanto. 1999. Metode Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Kanisius.
Ratna,  Nyoman  Kutha.  2004.  Teori,  Metode,  dan  Teknik  Penelitian  Sastra.
Yogyakarta:   Pustaka   Roestiyah.   2001.   Strategi   Belajar   Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Semi, Atar. 1993. Metode Penelitian Sastra. Bandung: Angkasa.
Subana.  2006.  Strategi  Belajar  Mengajar  Bahasa  Indonesia.  Bandung:  Pustaka Setia.
Sudjana.   1998.   Keterampilan   Berbahasa   Membaca-Menulis-Berbicara   Untuk Mata Kuliah Dasar-dasar Bahasa Indonesia. Jakarta: Depdikbud.
Suprijono, Agus.  2009.  Cooperative Learning . Yogyakarta  :  Pustaka Pelajar. Supriyadi.   2003.   “Peningkatan   keterampilan   Membaca   Pemahaman   Cerpen
Melalui  Teknik  Berjenjang  Siswa  Kelas  I  Bonofasio  Semarang  Tahun Ajaran 2003/2004”. Skirpsi. Universitas Negeri Semarang.
Suroto. 1993. Apresiasi Sastra Indonesia. Jakarta:Erlangga.
Sugiarti. 2002. Upaya Peningkatan Kemampuan Memahami Isi Cerpen MelaluiMetode Pemberian Tugas Rumah pada  Siswa  Kelas  II  MA Roudlotut Tholibin Pakis Tayu Pati Tahun Ajaran 2001/2002.Skripsi. Universitas Negeri Semarang.
Suyatno. 2004. Teknik Pembelajaran Bahasa dan Sastra Berdasarkan Kurikulum Barbasis Kompetensi. Surabaya: SIC.
Marfuah. 2001. Peningkatan pemahaman Cerita Pendek dengan Metode Pemberian Tugas pada Siswa Kelas II SLTP N 2 Bonang  Kabupaten Demak Tahun Ajaran 2000/2001. Skripsi. Uiversitas Negeri Semarang.
Nurgiyantoro, Burhan. 2007. Teori Pengkajian Sastra. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Terimakasih atas kunjungan anda yang telah membaca postingan saya CONTOH LENGKAP PTK BAHASA INDONESIA SMP

Postingan terkait: