CONTOH PTK MATEMATIKA SD METODE DENGAN TERBARU

CONTOH PTK MATEMATIKA SD METODE DENGAN TERBARU-Berdasarkan data nilai ulangan harian kelas VI Semester II SDN ... Tahun Pelajaran 2015/2016, Siswa kelas VI SDN ... yang berjumlah 13 orang memilik hasil belajar nilai yang rendah yaitu hanya ada 5 siswa (38,64%) yang mendapat nilai diatas KKM dan yang mendapat nilai dibawah KKM 58 ada 8 siswa (61,54%). Hal ini terjadi karena guru belum menggunakan alat peraga dan metode pembelajaran yang tepat. Download ptk matematika sd kelas 6 doc
Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan dalam 2 siklus, yaitu siklus I dengan dua pertemuan dan siklus II dengan dua pertemuan. Tehnik pengumpulan data menggunakan tes dan observasi, Tehnik tes ini digunakan untuk melihat hasil tes awal dan data hasil belajar setelah tindakan. Data hasil observasi dianalisis dengan tehnik analisis diskriptif kualitatif dan data hasil tes dianalisis dengan analisis kuantitatif yaitu dengan menggunakan hasi tes awal, diskusi dan siklus 2, sedangkan tehnik observasi digunakan untuk mengumpulkan data tentang pembelajaran.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan metode penemuan (Discovery) dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VI semester II SDN ... Kecamatan ... Kabupaten ... Tahun Pelajaran 2015/2016. Hal ini dibuktikan adanya peningkatan hasil belajar siswa. Kondisi awal siswa yang tuntas 7 siswa (30,67%) dengan rata-rata 53,85, siklus I meningkat menjadi 9 siswa (38,46%) dengan rata-rata 59,61, Siklus 2 meningkat menjadi 19 siswa (84,61%) dengan rata-rata 66,92
Penerapan dalam pengajaran Matematika dengan menggunakan alat peraga dua dimenasi dan metode penemuan (Discovery) dinyatakan dapat meningkatkan hasil belajar dan aktifitas siswa. Hal ini disebabkan penggunaan alat peraga dua dimensi dan metode penemuan (Discovery) dapat membuat siswa lebih aktif dan belajar pun lebih menyenangkan serta kemandirian siswa meningkat, selain itu juga siswa lebih bisa menyerap materi pelajaran karena siswa dapat menemukan hal-hal yang baru yang sebelunya belum dimengerti oleh siswa.

Laporan penelitian tindakan kelas ini membahas MATEMTIKA SD yang diberi judul "
PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA DENGAN METODE PENEMUAN (DISCOVERY) MENGGUNAKAN BANTUAN MEDIA DUA DIMENSI PADA SISWA KELAS VI SEMESTER II 
SD NEGERI ... KECAMATAN ... 
KABUPATEN ... 
TAHUN PELAJARAN 2015/2016
". Disini akan di bahas lengkap.

PTK ini bersifat hanya REFERENSI saja kami tidak mendukung PLAGIAT, Bagi Anda yang menginginkan FILE PTK MATEMATIKA KELAS 6 SD lengkap dalam bentuk MS WORD SIAP DI EDIT dari BAB 1 - BAB 5 untuk bahan referensi penyusunan laporan PTK dapat (SMS ke 0856-47-106-928 dengan Format PESAN PTK 031 SD).

DOWNLOAD PTK MATEMATIKA KELAS 6 DISCOVERY

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Sebuah kegiatan menjadi kurang berarti apabila tujuan yang telah direncanakan sebelumnya tidak terlaksana. Terlaksananya sebuah tujuan tentu memerlukan upaya yang sungguh sungguh. Kesungguhan sebuah upaya ditunjukkan dengan ditempuhnya berbagai cara pencapaian yang dilakukan. Bahkan usaha pencapaian itu sendiri harus pula direncanakan sehingga usaha pencapaian tersebut akan menjadi lebih berarti. Oleh sebab itulah pendidikan dan pembelajaran yang merupakan kegiatan mulia dalam mencerdaskan kehidupan bangsa tujuannya telah dicanangkan sedemikian rupa dalam GBPP (Garis Besar Program Pembelajaran). Agar upaya tersebut menuai keberhasilan. Hal ini jelas kita lihat dalam UUD 1945 dan GBHN.

Sebagai seorang guru, penulis setiap hari bergelut dalam kegiatan pendidikan dan pembelajaran. Kegiatan merencanakan dan melaksanakan program pembelajaran adalah merupakan tugas utama sehari hari. Dalam pelaksanaan tugas tersebut, masih sering dijumpai beberapa tujuan pembelajaran yang belum tercapai secara optimal. Hal ini dapat dari tingkat penguasaan materi pembelajaran siswa yang masih rendah. Rendahnya tingkat penguasaan materi diantaranya ditunjukkan oleh nilai ulangan tengah semester pertama pelajaran matematika. Contoh ptk matematika sd kelas 6 pdf Dari 23 siswa kelas VI SDN ... (tempat penulis mengajar) hanya 9 siswa (38,46%) yang mendapat nilai diatas KKM 58 dan yang mendapat nilai dibawah KKM 58 ada 14 siswa (61,54%). Sebagai upaya meningkatkan tingkat penguasaan siswa terhadap materi pelajaran, penulis melaksanakan perbaikan pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas. 

Selama pelaksanan penelitian, penulis melakukan diskusi, serta observasi dengan teman sejawat. Diskusi dilakukan pada saat refleksi pelaksanaan perbaikan pembelajaran yang dilakukan dalam siklus PTK untuk pelajaran matematika.
Tes formatif yang diadakan setelah ulangan semester pertama kembali menunjukkan masih rendahnya kemampuan siswa dalam penguasaan materi. Terdapat 9 siswa (38,46%) dari 23 siswa yang berhasil mencapai tingkat ketuntasan diatas KKM 5 dan 14 siswa (61,54%) dibawah KKM 58. Hal ini terjadi pada pelajaran matematika pokok bahasan Mengenal Koordinat letak ( posisi ) sebuah benda.

Dalam memberikan materi, guru menggunakan gambar model yang digambar dipapan dengan menggunakan kapur. Gambar tersebut tidak membuat siswa tertarik untuk mengamatinya. Siswa lebih asyik dengan aktivitas mereka masing masing dari pada memperhatikan gambar serta penjalasan dari guru.

Atas dasar beberapa hal tersebut diatas, hal yang perlu dianalisa dan penting untuk segera dipecahkan adalah masalah penggunaan alat peraga dan pemaksimalan pengelolaan kelas oleh guru. Dari dua masalah tersebut diatas, penggunaan alat peraga menjadi salah satu solusi untuk memecahkan permasalahan. Dengan penggunaan alat peraga dua dimensi diharapkan pembelajaran akan lebih menarik sehingga siswa akan lebih antusias dan lebih semangat dalam mengikuti proses pembelajaran.

B. Identifikasi Masalah
Hasil pembelajaran yang dilakukan peneliti setelah melaksanakan proses pembelajaran Matematika di kelas VI SDN ... Kecamatan ... Kabupaten ... diketahui bahwa hasil belajar siswa rendah. Hal ini dibuktikan dari hasil tes formatif, dari 23 siswa yang mendapat nilai 58 ke atas atau yang mengalami ketuntasan belajar ada 9 siswa atau 38,46 % sedangkan yang 14 atau 61,54 % mendapat nilai dibawah KKM. 

Nilai rata-rata kelas 59,61. Untuk mengetahui secara rinci kekurangan atau masalah yang dialami siswa penulis melaksanakan refleksi diri yaitu dengan mencari pemecahan masalah yang di hadapi oleh siswa yaitu supaya siswa lebih memusatkan perhatiannya kepada guru saat mengikuti pembelajaran, lebih bersungguh-sungguh dalam mengerjakan latihan soal yang diberikan oleh guru,siswa lebih berani bertanya apabila ada sesuatu yang belum di pahaminya serta hasil belajar siswa dapat meningkat yaitu tidak dibawah KKM.

C. Pembatasan Masalah
Dari jawaban atau pertanyaan tersebut diketahui berbagai kekurangan yang dihadapi siswa dalam pembelajaran, yaitu :
a. Siswa kurang tertarik untuk memperhatikan pelajaran.
b. Siswa sering keluar masuk dengan alasan ke belakang.
c. Siswa kurang sungguh-sungguh dalam mengerjakan tugas.
d. Siswa kurang berani dalam menjawab pertanyaan.
e. Siswa tidak berani bertanya bila mengalami kesulitan.
f. Hasil belajar siswa rendah.
Dari hasil refleksi tersebut dapat dikatakan bahwa siswa belum berhasil belajar secara efektif karena nilai tes formatif rendah.

D. Perumusan Masalah
permasalahan. Permasalahan yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : “Apakah penggunaan metode Penemuan ( Discovery ) menggunakan bantuan media dua dimensi dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VI SDN ... Kecamatan ... Kabupaten ... Tahun 2015/2016?”.

E. Pemecahan Masalah
Dari berbagai kekurangan yang dialami siswa dalam pembelajaran Matematika di kelas VI SDN ... Kecamatan ... Kabupaten ... belum efektif. Untuk mengetahui secara rinci sebab-sebab kekurang efektifan tersebut penulis melakukan refleksi diri dengan menjawab sejumlah pertanyaan berkenaan dengan proses pembelajaran yang telah penulis lakukan, pertanyaan yang dimaksud adalah :                                     
a. Apakah cara penyampaian materi terlalu cepat?
b. Apakah metode yang digunakan guru sudah tepat?
c. Apakah bahasa yang digunakan guru mudah dipahami oleh siswa?
d. Apakah guru menggunakan alat peraga?
e. Apakah dalam pembelajaran guru mengaktifkan siswa?
f. Apakah guru memotivasi siswa dalam pembelajaran?

Dari jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan refleksi tersebut diketahui beberapa aspek pelaksanaan pembelajaran yang kurang efektif yang menyebabkan kekurangberhasilan siswa.
Proses pembelajaran kurang efektif karena :
a. Guru dalam menyampaikan materi kurang tepat.
b. Metode yang digunakan guru kurang tepat.
c. Bahasa yang digunakan guru sulit dipahami.
d. Guru tidak maksimal menggunakan alat peraga.
e. Guru kurang mengaktifkan siswa.
f. Guru kurang memberi motivasi terhadap siswa.

Secara singkat dapat dikatakan proses pembelajaran Matematika tentang sistem koordinat di kelas VI SDN ... belum berjalan secara efektif, karena guru terlalu cepat dalam membahas materi, kurang tepat dalam menggunakan metode dan alat peraga serta kurang mengaktifkan dan tidak memotivasi siswa dalam pembelajaran. Contoh ptk kelas 6 sd word

F. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Penelitian Tindakan Kelas ini secara umum bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam pembelajaran Matematika.
2. Tujuan Khusus
Secara Khusus tujuan Penelitian Tindakan Kelas ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran Matematika melalui penguatan daya ingat dalam media dua dimensi dan metode penemuan (Discovery). Dengan digunakannya media dua dimensi dan metode Discovery ini diharapkan proses pembelajaran lebih efektif. Bahkan siswa ikut terlibat dengan penggunaan media juga. Dengan demikian terciptalah suasana pembelajaran yang aktif, kreatif dan menyenangkan. Pada akhir proses pembelajaran diharapkan siswa dapat mencapai hasil ketuntasan belajar yang maksimal.

G. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Umum
Penelitian ini secara umum diharapkan dapat memberikan hasil berupa informasi yang dibutuhkan dalam dunia pendidikan. Sebagaimana diungkapkan oleh sebuah teori bahwa peningkatan kemampuan membaca dapat dilakukan melalui penggunaan media pembelajaran.

2. Manfaat Khusus
Secara khusus penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagaimana diuraikan berikut ini :
a. Manfaat bagi siswa :
1. Meningkatkan prestasi belajar matematika siswa dalam materi sistem koordinat dan pengolahan data.
2. Siswa mampu berekspresi secara kreatif sesuai dengan potensi yang dimiliki di dalam pembelajaran Matematika dengan menggunakan media dua dimensi dan metode Penemuan (Discovery).
3. Adanya penguatan ingatan dengan media pembelajaran memudahkan siswa memahami materi pelajaran yang disampaikan oleh guru.

b. Manfaat bagi peneliti :
Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas ini memberikan manfaat yang besar bagi peneliti sebagai seorang guru. Beberapa manfaat tersebut antara lain :
1. Peneliti memiliki pengetahuan, ketrampilan dan pengalaman tentang Penelitian Tindakan Kelas. Penelitian ini khususnya pada penguatan ingatan dalam pembelajaran matematika dengan menggunakan media dua dimensi dan metode Penemuan (Discovery).
2. Peneliti mampu mengidentifikasi dan menganalisa permasalahan yang ada dalam proses pembelajaran.
3. Dengan ditemukannya permasalahan, peneliti berusaha mencari solusi yang dianggap tepat.
4. Peneliti mampu memperbaiki proses pembelajaran didalam kelasnya dalam rangka meningkatkan kemampuan mengenal sistem koordinat dan pengolahan data.

c. Manfaat bagi sekolah :
Beberapa manfaat yang diperoleh oleh sekolah dengan adanya penelitian ini diantaranya adalah :
1. Menjadi masukan bagi guru SD dalam mengajarkan mata pelajaran matematika mengenai sistem koordinat.
2. Sekolah mendapat sumbangan pemikiran dalam usaha usaha yang mengarah pada peningkatan kemampuan mengenal sistem koordinat.
3. Merupakan aset penting bagi sekolah karena dalam rangka meningkatkan aktifitas serta kreatifitas dalam pembelajaran.
4. Dapat digunakan sebagai acuan bagi guru yang lain untuk melakukan kegiatan yang sejenis.

d. Manfaat Teoritis
Adapun manfaat secara teoritis yang diperoleh dari penelitian tindakan kelas ini adalah :
1. Memperoleh teori baru tentang penggunaan metode Penemuan (Discovery ) dengan menggunakan media dua dimensi untuk meningkatkan hasil belajar Matematika pada siswa kelas VI SDN ... Kecamatan ... Kabupaten ... Tahun Pelajaran 2015/2016.
2. Sebagai dasar penelitian selanjutnya

CONTOH LENGKAP PTK MATEMATIKA KELAS 6 DENGAN METODE TERBARU

BAB II
KAJIAN PUSTAKA


A. Landasan Teori
1. Hakekat Belajar
Belajar merupakan perubahan perilaku manusia atau perubahan kapabilitas yang relatif permanen sebagai hasil pengalaman. Belajar melalui proses yang relatif terus menerus dijalani dari berbagai pengalaman. Pengalaman inilah yang membuahkan hasil yang disebut belajar (Robert M. Gagne,1984, The Condition of Learning and Theory of Instruction). Belajar juga merupakan kegiatan yang kompleks. Artinya didalam proses belajar terdapat berbagai kondisi yang dapat menentukan keberhasilan belajar. Faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar adalah berbagai kondisi berkaitan dengan proses. Kondisi tersebut yaitu kondisi eksternal kondisi internal.

Adapun belajar menurut C.A Kimbel dalam Simanjuntak (1993 : 38) yaitu perubahan yang relatif menetap dalam potensi tingkah laku yang terjadi sebagai akibat dari latihan dengan penguasaan. Perubahan ini tidak termasuk karena kematangan,mengetahui dan memahami sesuatu sehingga terjadi perubahan dalam diri seseorang yang belajar. ptk sd kelas 6 doc 

2. Belajar Matematika
Pembelajaran Matematika SD merupakan pembelajaran yang paling utama, terutama di kelas rendah (I dan II). Hal ini jelas tidak dapat dipungkiri karena matematika khususnya dalam pokok bahasan berhitung bilangan merupakan dasar sebelum mempelajari pokok bahasan yang lain.

Menurut M. Asikin Hidayat (2003 : 17), perlu diupayakan untuk mengaktifkan siswa dalam pembelajaran. Upaya itu diwujudkan dengan cara (i) mengoptimalkan keikutsertaan unsur unsur proses belajar mengajar, ;(ii) mengoptimalkan keikutsertaan seluruh sense siswa. Pengoptimalan seluruh sense siswa sangat terkait dengan bagaimana siswa merespon setiap persoalan yang dimunculkan oleh guru dalam pembelajaran di kelas. Respon bisa secara lisan, tertulis atau bentuk bentuk representasi lain seperti demonstrasi. Selain itu komunitas matematika yang kondusif juga diperlukan. Komunitas kondusif adalah lingkungan belajar yang mempercakapkan tentang matemtika tersebut. Pembicaraan yang terjadi harus membangkitkan setiap siswa untuk berpartisipasi aktif.
Kesimpulan dari beberapa pendapat para ahli diatas yaitu bahwa belajar matematika diawali dari benda benda yang dimanipulasi, benda benda kongkrit dan akhirnya siswa mempelajari matematika tanpa bantuan model atau belajar matematika dengan objek yang abstrak.

3. Strategi Belajar Matematika
Banyak strategi yang dikemukakan oleh para ahli. Namun dari beberapa strategi itu dapat diambil dua strategi yang dominan. Strategi itu adalah strategi ekspositorik dan heuristik.
Strategi ekspositorik adalah suatu strategi belajar mengajar yang menyiasati agar semua aspek dari komponen system pembelajaran mengarah pada terkesampaikannya materi pembelajaran atau pesan pada siswa secara langsung. Dalam strategi ini siswa tidak perlu mencari dan menemukan sendiri fakta, prinsip dan konsep yang dipelajari.

Sedangkan strategi heuristik yaitu strategi belajar mengajar yang menyiasati agar aspek aspek dari komponen pembentuk system pembelajaran mengarah pada pengaktifan siswa untuk mencari dan menemukan sendiri fakta, prinsip dan konsep yang mereka butuhkan.

4. Tujuan Pembelajaran Matematika SD
Secara umum tujuan pembelajaran matematika di SD adalah (i) mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi perubahan, keadaan dalam kehidupan dan dunia yang selalu berkembang melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran logis, rasional, kritis, cermat dan efektif, (ii) mempersiapkan siswa agar dapat menggunakan matematika dan pola pikir matematika dalam kehidupan sehari hari dan dalam mempelajari berbagai ilmu pengetahuan.
Sedangkan secara khusus, tujuan pembelajaran matematika di SD adalah untuk (i) menumbuh kembangkan ketrampilan berhitung (menggunakan bilangan) sebagai alat dalam kehidupan sehari hari (ii) menumbuhkan kemampuan siswa yang dapat dialihgunakan melalui kegiatan matematika, (iii) mengembangkan pengetahuan dasar matematika sebagai bekal belajar lebih lanjut di SMP, dan (iv) membentuk sikap logis, kritis, cermat, kreatif dan disiplin.

5. Karakteristik Pembelajaran Matematika
Pembelajaran matematika dilakukan secara berjenjang. Pembelajaran dimulai dari konsep sederhana bergerak ke konsep yang lebih sukar. Bermula dari hal yang kongkrit bergerak ke semi kongkrit dan beralih ke semi abstrak sehingga berpikir pada abstrak.
Pembelajaran matematika mengikuti metode spiral. Konsep yang baru diperkenalkan dengan mengaitkan pada konsep yang sudah dipahami siswa. Hal ini merupakan konsep belajar bermakna atau belajar dengan pemahaman.
Pembelajaran matematika menekankan penggunaan pola deduktif yaitu belajar memahami suatu konsep melalui pemahaman definitif umum baru kemudian menuju ke contoh contoh. Di SD digunakan pola induktif. Dengan pendekatan ini berarti mengenal konsep melalui sebuah contoh.

B. Media Pembelajaran
1. Pengertian Media
Menurut asalnya, Media berasal dari bahasa latin yaitu medius yang artinya tengah atau pengantar. Menurut bahasa arab, media ialah perantara atau pengantar pesan. Pesan dikirim dari pengirim kepada penerima yang menjadi tujuan pengirim.
Media diartikan juga sebagai alat alat atau sarana sarana yang dapat dipergunakan untuk menunjang kelancaran proses belajar mengajar. Dalam hal ini bertujuan agar siswa dapat menyerap dan memahami materi yang disampaikan guru. Sehingga akhirnya tujuan khusus pembelajaran yang diharapakan akan tercapai.

Medium sebagai perantara juga dikemukakan oleh Heinich,dkk (Arsyad, 2000 : 4). Medium sebagai perantara yang mengantar informasi antara sumber informasi dan penerima. ptk matematika sd kelas 6 pdf Media dapat berupa film, televisi, radio, cetakan, dan sejenisnya yang termasuk dalam kelompok media komunikasi namun disini mengandung maksud jika media tersebut membawa pesan pesan atau informasi yang bertujuan instruksional atau maksud pengajaran maka media itu disebut media pengajaran.
Media merupakan wahana penyalur informasi belajar atau penyalur pesan. Pendapat ini dikemukakan oleh Djamarah dan Zain (1996 : 138).

Dalam penelitian ini, media yang digunakan Penggunaan alat peraga dua dimensi. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa media tersebut mudah didapat oleh siswa kelas VI SDN ... untuk dibawa kedalam kelas dan lebih mudah dipahami oleh siswa.

2. Fungsi Media Pembelajaran
Manfaat media secara umum dalam proses pembelajaran yaitu untuk memperlancar interaksi antara guru dengan siswa. Dengan digunakannya media, kegiatan pembelajaran menjadi lebih efektif dan efisien. Namun secara khusus media dapat dirinci manfaatnya sebagaimana diungkapkan oleh Kemp dan Daytona (1985). Manfaat media tersebut dalam pembelajaran antara lain adalah :
a. Penyampaian materi pelajaran dapat diseragamkan.
b. Proses pembelajaran menjadi lebih jelas dan menarik.
c. Proses pembelajaran menimbulkan interaksi aktif antara guru dan siswa.
d. Menjadikan penggunaan waktu dan tenaga lebih efisien.
e. Kualitas hasil belajar siswa menjadi meningkat.
f. Dengan media memungkinkan proses belajar mengajar dilakukan dimana dan kapan saja.
g. Media juga dapat menumbuhkan sikap positif bagi siswa terhadap materi dan proses belajar.
h. Mengubah peran guru kearah yang lebih positif dan produktif.

Kita masih dapat menemukan beberapa manfaat media. Diantara manfaat praktis media pembelajaran tersebut adalah :
a. Media dapat membuat materi pembelajaran yang abstrak menjadi lebih kongkrit.
b. Media juga dapat mengatasi kendala keterbatasan ruang dan waktu.
c. Media dapat membantu mengatasi keterbatasan indera manusia, juga dapat menyajikan obyek pelajaran berupa benda atau peristiwa langka dan bahaya kedalam kelas.
d. Informasi pelajaran yang disajikan dengan media yang tepat dan memberikan kesan mendalam dan lebih lama tersimpan dalam diri siswa.

3. Jenis - Jenis Media
Jenis dan media sangat beraneka ragam. Menurut Teguh Prakoso (2005 : 245). Apapun media yang digunakan pemilihannya harus didasarkan pada tuntutan pembelajaran yang ingin dicapai. Beberapa media pembelajaran yang kita kenal antara lain replica, gambar, duplikat, planel, kertas karton, radio video dan masih banyak lagi. Pemilihan teknik tertentu sebenarnya juga mengisyaratkan media yang akan digunakan. Misalnya membaca memindai petunjuk penggunaan alat atau pemakaian obat menuntut untuk disediakan atau obat yang dibaca petunjuk pemakaiannya.

Beberapa media pembelajaran yang biasa digunakan dapat dibedakan dalam dua kelompok, yaitu media elektronik dan non elektronik. Media elektronik antara lain televise, radio, film, video dan sebagainya. Sedangkan yang termasuk non elektronik adalah media cetak dan media lain yang dibuat maupun didapatkan langsung dari alam sekitar.

C. Metode Pembelajaran
1. Pengertian Metode Pembelajaran
Banyak metode pembelajaran yang dapat dipilih dan digunakan guru dalam pembelajarannya. Pemilihan dan penerapan metode yang digunakan hendaknya diarahkan kepada siswa untuk belajar aktif, sehingga kesan atau pengalaman belajar yang siswa peroleh benar-benar siswa miliki. Penerapan metode yang dipilih dalam pembelajaran haruslah bertemu pada dua hal yaitu optimalisasi interaksi antar semua unsur (guru, siswa, sarana dan lingkungan) serta keterlibatan seluruh indera siswa.
Ruseffendy (1980) memberikan klarifikasi tentang strategi pendekatan, metode dan teknik pembelajaran sebagai berikut:
a. Strategi pembelajaran adalah seperangkat kebijakan yang dipilih, yang telah dikaitkan dengan faktor yang menentukan warna atau strategi tersebut:
- Pemilihan materi pelajaran (guru, dan murid)
- Penyaji materi pelajaran (perorangan, kelompok, mandiri)
- Cara materi pelajaran disajikan (induktif dan deduktif, analistis, atau sintetis, formal atau non formal).
b. Pendekatan pembelajaran adalah jalan atau arah yang ditempuh oleh guru atau siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran dilihat bagaimana materi pembelajaran tersebut disajikan. Misalnya, memahami suatu prinsip dengan pendekatan induktif atau deduktif.
c. Metode pembelajaran adalah cara mengajar secara umum yang dapat diterapkan pada semua pelajaran. Misalnya, dengan cara tanya jawab, ceramah, eksposisi, penemuan.
d. Teknik pembelajaran adalah penerapan secara khusus suatu metode pembelajaran yang telah disesuaikan dengan kemampuan dan kebiasaan guru, ketersediaan media pembelajaran, serta kesiapan siswa.

2. Metode Pembelajaran Penemuan ( Discovery Learning )
Metode pembelajaran discovery (penemuan) adalah metode mengajar yang mengatur pengajaran sedemikian rupa sehingga anak memperoleh pengetahuan yang sebelumnya belum diketahuinya itu tidak melalui pemberitahuan, sebagian atau seluruhnya ditemukan diri sendiri. Dalam pembelajaran Discovery ( penemuan ) kegiatan atau pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat menemukan konsep-konsep dan prinsip-prinsip melalui proses mentalnya sendiri. Dalam menemukan konsep, siswa melakukan pengamatan, menggolongkan, membuat dugaan, menjelaskan, menarik kesimpulan dan sebagainya untuk menemukan beberapa konsep atau prinsip.

Metode discovery di artikan sebagai prosedur mengajar yang mementingkan pengajaran perseorangan, memanipulasi objek sebelum pada generalisasi. Sedangkan Bruner menyatakan bahwa anak harus berperan aktif di dalam belajar. Lebih lanjut dinyatakan, aktivitas itu perlu dilaksanakan melalui suatu cara yang disebut discovery. Discovery yang dilaksanakan siswa dalam proses belajarnya, diarahkan untuk menemukan suatu konsep atau prinsip. ptk matematika sd kelas 6 doc

Discovery diartikan proses mental dimana siswa mampu mengasimilasikan suatu konsep atau prinsip. Proses mental yang dimaksud antara lain : mengamati, mencerna, mengerti, menggolongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan dan sebagainya. Dengan tehnik ini siswa dibiarkan menemukan sendiri atau mengalami proses mental sendiri. Guru hanya membimbing dan memberikan instruksi. Dengan demikian pembelajaran discovery ialah suatu pembelajaran yang melibatkan siswa dalam proses kegiatan mental melalui tukar pendapat, dengan berdiskusi, membaca sendiri dan mencoba sendiri, agar anak dapat belajar sendiri.

Metode pembelajaran discovery merupakan suatu metode pengajaran yang menitik beratkan pada aktifitas siswa dalam belajar. Dalam proses pembelajaran dengan metode ini, guru hanya bertindak sebagai pembimbing dan fasilitator yang mengarahkan siswa untuk menemukan konsep, dalil, prosedur, algoritma dan semacamnya.
Tiga ciri utama belajar menemukan yaitu : (1) mengeksplorasi dan memecahkan masalah untuk menciptakan, menggabungkan dan menggeneralisasikan pengetahuan; (2) berpusat pada siswa; (3) kegiatan untuk menggabungkan pengetahuan baru dan pengetahuan yang sudah ada.

Blake et al. membahas tentang filsafat penemuan yang dipublikasikan oleh Whewell. Whewell mengajukan model penemuan dengan tiga tahap, yaitu : (1) Mengklarifikasi; (2) menarik kesimpulan secara induksi; (3) pembuktian kebenaran (verifikasi).
Langkah-langkah pembelajaran discovery adalah sebagai berikut :
1. Identifikasi kebutuhan siswa.
2. Seleksi pendahuluan terhadap prinsip-prinsip, pengertian konsep dan generalisasi pengetahuan.
3. Seleksi bahan, problema atau tugas-tugas.
4. Membantu dan memperjelas tugas atau problema yang dihadapi siswa serta peranan masing-masing.
5. Mempersiapkan kelas dan alat-alat yang diperlukan.
6. Mengecek pemahaman siswa terhadap masalah yang akan dipecahkan.
7. Memberi kesempatan pada siswa untuk melakukan penemuan.
8. Membantu siswa dengan informasi atau data jika diperlukan oleh siswa.
9. Memimpin analisis sendiri (self analysis) dengan pertanyaan yang mengarahkan dan mengidentifikasi masalah.
10. Merangsang terjadinya interaksi antara siswa dengan siswa.
11. Membantu siswa merumuskan prinsip dan generalisasi hasil penemuannya.

Salah satu metode belajar yang akhir-akhir ini banyak digunakan di sekolah-sekolah yang sudah maju adalah metode Discovery. Hal ini disebabkan karena metode ini :
1. Merupakan suatu cara untuk mengembangkan cara belajar siswa aktif.
2. Dengan menemukan dan menyelidiki sendiri konsep yang dipelajari, maka hasil yang diperoleh akan tahan lama dalam ingatan dan tidak mudah di lupakan oleh siswa.
3. Pengertian yang ditemukan sendiri merupakan pengertian yang betul-betul dikuasai dan mudah digunakan atau ditransfer dalam situasi lain.
4. Dengan menggunakan strategi discovery anak belajar menguasai salah satu metode ilmiah yang akan dikembangkan sendiri.
5. Siswa belajar berfikir analisi dan mencoba memecahkan problema yang di hadapi sendiri, kebiasaan ini akan ditransfer dalam kehidupan nyata.

Beberapa keuntungan belajar discovery yaitu :
1. Pengetahuan bertahan lama dan mudah diingat.
2. Hasil belajar discovery mempunyai efek transfer yang lebih baik dari pada hasil lainnya.
3. Secara menyeluruh belajar discovery meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk berfikir bebas. Secara khusus belajar penemuan melatih ketrampilan-ketrampilan kognitif siswa untuk menemukan dan memecahkan masalah tanpa pertolongan orang lain.

Beberapa keunggulan metode penemuan ini juga diungkapkan oleh Suherman, dkk (2001:179) sebagai berikut :
1. Siswa aktif dalam kegiatan belajar, sebab ia berfikir dan menggunakan kemampuan untuk menemukan hasil akhir.
2. Siswa memahami benar bahan pelajaran, sebab mengalami sendiri proses menemukannya. Sesuatu yang diperoleh dengan cara ini lebih lama diingat.
3. Menemukan sendiri menimbulkan rasa puas. Kepuasan batin ini mendorong ingin melakukan penemuan lagi sehingga minat belajarnya meningkat.
4. Siswa yang memperoleh pengatahuan dengan metode penemuan akan lebih mampu mentransfer pengetahuannya ke berbagai kenteks.
5. Metode ini melatih siswa lebih banyak belajar sendiri.

Selain memiliki beberapa keuntungan, metode discovery (penemuan) juga memiliki beberapa kelemahan, diantaranya membutuhkan waktu belajar yang lebih lama dibandingkan dengan belajar menerima. Untuk mengurangi kelemahan tersebut maka diperlukan bantuan guru. Bantuan guru dapat dimulai dengan mengajukan beberapa pertanyaan dan dengan memberikan informasi singkat. Pertanyaan dan informasi tersebut dapat dimuat dalam lembar kerja siswa (LKS) yang telah dipersiapkan oleh guru sebelum pembelajaran dimulai.

D. Kerangka Berfikir
 
E. Hipotesis Tindakan
Suharsini Arikunto (1992 : 62) mengartikan bahwa hipotesis merupakan jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul. Dengan demikian kerangka berpikir sebagaimana telah diuraikan diatas mengandung praduga bahwa penggunaan media dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika sub bahasan bilangan koordinat pada siswa kelas VI SDN ... Kecamatan ... Kabupaten ....
Dari praduga tersebut penulis mengajukan hipotesis yaitu “Melalui penggunaan metode Penemuan (Discovery) dengan bantuan media dua dimensi dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VI SDN ... Kecamatan ... Kabupaten ... Tahun Pelajaran 2015/2016”.

DOWNLOAD PROPOSAL PTK MATEMATIKA SD

BAB III
PELAKSANAAN PENELITIAN


A. Jenis, Setting, Karakter Penelitian
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah PTK (Penelitian Tindakan Kelas)

2. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di kelas VI SDN ... Kecamatan ... Kabupaten ... Pada lembaga inilah sehari hari penulis bertugas sebagai guru kelas. Adapun secara rinci profil lembaga pendidikan ini adalah sebagai berikut : 
1. Nama : SDN ...
2. NSS : ...................
3. NPSN : 40601779
4. Status Sekolah : Negeri 
5. Alamat : ...
6. Desa : ...
7. Kecamatan : ... 
8. Kabupaten : ...
9. Propinsi : ...

3. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan April 2016. harapan penulis pada bulan April sudah dapat dilakukan finishing laporan penelitian. Download ptk matematika sd kelas 6 doc Dengan demikian penelitian dapat berjalan sesuai dengan jadwal yang direncanakan. Jadwal rencana penelitian dapat dilihat dalam tabel berikut.

Tabel 1. Jadwal Kegiatan Penelitian
Keterangan :
1. Siklus I dilaksanakan pada hari Rabu dan Kamis yaitu tanggal 18 & 19 April 2016 pukul 07.15 – 08.25 WIB.
2. Analisis dan refleksi siklus I dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 19 April 2016 pukul 08.25 – 09.00 WIB
3. Sikus II dilaksanakan pada hari Rabu dan Kamis yaitu tanggal 25 & 26 April 2016 pukul 07.15 – 08.25 WIB.
4. Analisis dan refleksi siklus II dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 26 April 2016 pukul 08.25 – 09.00 WIB.

B. Subyek Penelitian.
Kelas VI SDN ... Kecamatan ... Kabupaten ... menjadi tempat penelitian. Kelas ini memiliki siswa berjumlah 23 anak. Siswa laki laki berjumlah 10 anak dan siswa perempuan berjumlah 13 anak.

C. Sumber data
1. Data sekunder
SD Negeri posong Kecamatan ... Kabupaten ... yang terletak di daerah pedesaan. Jumlah siswa kelas VI SDN ... berjumlah 23 siswa, yang terdiri dari 10 siswa laki-laki dan 13 siswa perempuan. Lokasi dalam satu ruangan dengan menggunakan tempat duduk satu-satu permeja. Siswa berasal dari daerah itu sendiri. Tingkat kemampuan siswanya berbeda-beda atau bervariasi mulai dari yang rendah, sedang dan tinggi. Tingkat pendidikan dan pekerjaan orang tua siswa yang berbeda¬beda membentuk karateristik siswa yang berbeda pula. Sebagian besar siswa berasal dari keluarga yang kurang mampu. Berdasarkan latar belakang diatas akan mempengaruhi kondisi belajar siswa, yang akhirnya dapat mengakibatkan prestasi belajar siswa kelas VI SDN ... menjadi menurun.

2. Data Primer
Perencanaan perbaikan pembelajaran matematika siklus 1 merupakan refleksi awal berdasarkan hasil studi pendahuluan. Sebelum dilaksanakan penelitian melakukan berbagai persiapan sebagai berikut :
a. Membuat langkah-langkah dalam proses pembelajaran
b. Menyusun Rencana Perbaikan Pembelajaran
c. Menyiapkan sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam pembelajaran
d. Mengkondisi siswa agar bersikap biasa walaupun ada pengamat atau supervisor.

D. Variable Penelitian
1. Variable Bebas ( X )
Instrument yang akan digunakan dalam Variabel bebas (X) ini adalah lembar observasi. Lembar observasi digunakan untuk mengukur kegiatan guru dalam pembelajaran yang menggunakan metode penemuan (Discovery) dengan menggunakan bantuan media dua dimensi yaitu mulai dari kegiatan Pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Instrument penelitian lembar observasi dengan menggunakan dua aspek perbaikan pembelajaran yaitu guru dan siswa. Aspek dari guru yaitu meliputi pengaktifan siswa, penggunaan metode pembelajaran, penggunaan media pembelajaran, pemberian motivasi terhadap siswa, pemberian soal-soal latihan, dan pemberian kesempatan bertanya. Contoh ptk kelas 6 sd word Aspek penilaian siswa meliputi keterlibatan siswa, kedisiplinan siswa, keaktifan siswa serta keberanian bertanya jawab. Cara pengisian lembar observasi yaitu berdasarkan skala penilaian dari 1 sampai 5 dengan kriteria seperti berikut ini : 1 = kurang sekali, 2 = kurang, 3 = cukup, 4 = baik, 5 = baik sekali. Cara mengisi jawaban dengan memberikan tanda cek (√) pada kolom skala penilaian tersebut. Jadi saat guru sedang mengajar dengan menggunakan metode penumuan (Discovery) dengan bantuan media pembelajaran dua dimensi, guru lain sebagai observer mengamati dari setiap kegiatan yang ada.

2. Variable terikat ( Y )
Data variable terikat (Y) dalam penelitian ini adalah aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran yaitu melalui tehnik pemgumpulan data dan alat pengumpulan alat data. Alat pengumpulan data yang digunakan disini adalah dengan menggunakan onstrument yaitu dengan Tes dan lembar observasi, sedangkan alat pengumpulan data yang digunakan adalah dengan menggunakan soal-soal tes. Adapun tahap pengumpulan data dilakukan sebagai berikut :
1. Antusias siswa dalam apersepsi.
2. Perhatian siswa dalam menerima penjelasan guru.
3. Keaktifan siswa terhadap penggunaan media pembelajaran.
4. Respon siswa terhadap tugas atau soal yang diberikan oleh guru.
5. Keaktifan atau kerjasama siswa dalam berdiskusi.
6. Keaktifan atau kerjasama siswa dalam memecahkan masalah yang diberikan guru.
7. Aktifitas siswa mengerjakan soal evaluasi.

Kategori tersebut dikelompokkan dalam 4 yaitu :
A = Sangat Baik C = Cukup
B = Baik D = Kurang
E. Rencana tindakan
Setelah peneliti melakukan kegiatan pra siklus ditemukan beberapa masalah yaitu siswa tidak memperhatikan pelajaran saat guru menerangkan, siswa kurang tertarik bahkan banyak siswa yang mondar mandir keluar masuk kelas dengan alasan kebelakang, bila guru bertanya banyak siswa yang tidak mampu menjawab, karena tidak mengerti namun tidak mau bertanya, kurang motivasi sehingga pembelajaran pra siklus belum mengalami ketuntasan. Dengan memperhatikan Identifikasi masalah, Analisis masalah, dan Rumusan masalah, maka peneliti akan melakukan perbaikan pembelajaran yang belum tuntas yaitu dalam pembelajaran matematika kelas VI semester II tahun ajaran 2015/2016. SDN ..., Kecamatan ... Kabupaten ..., dengan kompetensi dasar “Mengenal koordinat posisi sebuah benda”.

Prosedur penelitian yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri dari dua siklus. Adapun langkah-langkah penelitian per siklus dilakukan 4 tahapan yaitu :
1. Tahap Perencanaan.
2. Tahap Pelaksanaan.
3. Tahap Pengamatan/Observasi.
4. Tahap Refleksi.

A. Siklus I
Kegiatan penelitian dimulai dengan diadakannya siklus I. Siklus ini dilaksanakan dalam satu kali pertemuan. Adapun tahapan dari siklus ini adalah sebagaimana tersebut di bawah ini.
1. Tahap Perencanaan
Perencanaan ini merupakan refleksi awal dari kegiatan penelitian. Atas dasar dari studi pendahuluan, maka disusun perencanaan melalui beberapa tahap. Tahap-tahap yang dilalui pada perencanaan ini adalah:
- Mendesain pembelajaran matematika tentang mengenal koordinat posisi sebuah benda dengan menggunakan metode bervariasi untuk meningkatkan hasil belajar matematika.
- Desain pembelajaran disimulasikan; masukan dari hasil simulasi digunakan untuk merevisi desain pembelajaran berikutnya;
- Penyusunan instrumen yang diperlakukan pada siklus.

2. Tahap Pelaksanaan
Masalah yang dihadapi penulis pada mata pelajaran matematika tentang system koordinat Sehingga fokus yang perlu diperbaiki yaitu dengan strategi belajar, normatik dan menyenangkan yaitu dengan menggunakan media dua dimensi yaitu dengan menggunakan kertas berpetak. Untuk pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), maka penulis melaksanakan kegiatan sebagai berikut :
a. Sebelum siklus penulis melaksanakan proses pembelajaran tentang system koordinat yang tanpa menggunakan media dua dimensi yang hanya menggunakan gambar di papan tulis dengan menggunakan kapur tulis.
b. Penulis menganalisis hasil tes sebelum siklus. Hasil tes sebelum suklus tersebut baru 2 siswa yang berhasil mendapat nilai 58 ke atas dari 23 siswa.
c. Kemudian penulis merencanakan proses pembelajaran siklus I dengan menggunakan media dua dimensi yaitu dengan menggunakan kertas berpetak.

Proses Pembelajaran Siklus I
a) Kegiatan awal : ( 5 menit )
§ Menyiapkan segala sesuatu, antara lain media pembelajaran, lembar kerja, lembar soal serta materi pembelajaran.
§ Melakukan apersepsi tentang materi yang akan dipelajari.
b) Kegiatan inti ( 45 menit )
Menyampaikan tujuan pembelajaran.
Membimbing siswa mengenal tentang sistem koordinat pada sebuah kertas yang ditempel oleh guru di depan kelas.
Dengan menggunakan media pembelajaran guru membantu siswa untuk membantu cara mencari titik-titik pada gambar sistem koordinat yang di pasang di depan .
Guru memberikan contoh letak titik koordinat yang baru, lalu siswa disuruh untuk menjawabnya.
Secara bergantian siswa di suruh untuk maju kedepan menuliskan sebuah titik koordinat yang angkanya sudah ditentukan oleh guru.

Dengan menggunakan metode penemuan (Discovery) siswa dibagi dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4 siswa perkelompok diberi beberapa tugas untuk mengerjakan secara bersama-sama dengan anggota kelompoknya. Guru membimbing cara mengerjakan tugas tersebut.
Perwakilan dari tiap kelompok untuk maju ke depan untuk menyampaikan hasil diskusi dengan kelompoknya tersebut.
Pemberian kesempatan kepada siswa untuk menanggapi pendapat temannya.
Guru memberi kesempatan kepada siswa yang lain untuk bertanya tentang materi yang belum jelas.

Secara bersama-sama guru dan dan siswa menyimpulkan materi yang baru saja dipelajarimya.
Memberi motivasi kepada siswa untuk banyak berlatih.
c) Kegiatan akhir ( 5 menit )
§ Memberi tugas kepada siswa untuk mengerjakan tes akhir secara individu.
§ Menilai, menganalisis dan melaksanakan tindak lanjut.
d) Tes Formatif ( 15 menit )
Secara klasikal guru mengadakan tes formatif kepada siswa. Tes ini diberikan secara tertulis, siswa mengerjakan tes pada buku pekerjaan siswa, sampai waktu habis, pekerjaan siswa dicocokan dan disimpulkan. Download ptk matematika sd kelas 6 doc
Dari kegiatan siklus I tersebut ternyata hasil tesnya sedikit mengalami peningkatan yaitu dari 13 siswa sudah ada 5 siswa yang mendapat nilai 58 ke atas.

3. Tahap Pengamatan/Observasi
Pengamatan dilakukan bersamaan dengan tindakan, juru peneliti sebagai penyampai materi dalam tahap dilakukan pula pengumpulan data-data setiap tindakan yang dilakukan guru dan siswa dan diamati oleh pengamat sebagai teman sejawat dengan menggunakan pedoman pengamatan. Pengataman dilakukan dari awal pembelajaran sampai pada akhir pembelajaran yang meliputi :
a. Dalam apersepsi guru mengadakan tanya jawab secara lisan.
b. Sebelum memberikan tugas guru menjelaskan tersebut cara mencari titik koordinat secara jelas.
c. Guru menunjuk kepada beberapa siswa untuk maju mengerjakan tugas di papan tulis.
d. Guru membimbing siswa yang maju mengerjakan tugas.
e. Guru memberi tes formatif kepada siswa.
f. Siswa sudah nampak aktif mengikuti jalannya pembelajaran, namun masih ada
yang kurang serius atau pasif dalam menjawab pertanyaan dari guru.
g. Sebagian siswa sudah dapat memahami materi yang disampaikan guru namun
masih ada siswa yang nampak kebingungan karena penjelasan guru terlelu cepat.
Tabel 2.
Lembar observasi pembelajaran Matematika pada siklus I

Keterangan:
1 = kurang sekali 4 = baik
2 = kurang 5 = baik sekal
3 = cukup

4. Tahap Refleksi.
Pelaksanaan perbaikan pembelajaran yang hasilnya sebagai bahan refleksi penulis untuk memperbaikinya.Setelah penulis melaksanakan perbaikan pembelajaran pada siklus I, Penulis dengan pengamat melakukan diskusi tentang.
Kegiatan yang sudah baik dalam perbaikan hasil pembelajaran :
a. Pengaktifan siswa
Dalam kegiatan pembelajaran guru telah mengaktifkan siswa Tanya jawab, guru memberikan tugas kepada siswa, membimbing siswa dalam mengerjakan tugas , serta memberi kesempatan kepada siswa untuk menanyakan materi yang belum dipahami. Contoh ptk matematika sd kelas 6 pdf

b. Penggunaan Metode dalam Pembelajaran
Dalam kegiatan perbaikan pembelajaran, guru sudah menggunakan metode dengan baik, sesuai dengan perencanaan, sehingga siswa tidak merasa jenuh dan bosan

c. Pemberian Motivasi
Dalam kegiatan perbaikan pembelajaran guru memberikan dorongan/motivasi kepada siswa supaya berani menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru. Guru memberikan motivasi berupa pujian-pujian dan acungan jempol kepada siswa yang berani menjawab pertanyaan dan memberikan motivasi juga kepada siswa yang belum berani bertanya dan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru.
d. Penggunaan Alat Peraga
Dalam proses perbaikan pembelajaran untuk menyampaikan materi dengan kompetensi dasar “ mengenal koordinat posisi sebuah benda“ semester II kelas VI Tahun pelajaran 2015/2016, guru menggunakan alat peraga dua dimensi dan penggunaan metode penemuan (discovery).

Kegiatan yang belum diberikan pada siswa antara lain:
1. Penggunaan bahasa
Penyampaian dalam perbaikan pembelajaran kepada siswa guru menggunakan bahasa Indonesia, sedangkan sebagian siswa belum dapat memahami bahasa yang digunakan oleh guru masih terlalu cepat dalam penyampaiannya.
2. Pemberian kesempatan bertanya:
Pada perbaikan pembelajaran guru tidak memberi kesempatan bertanya, karena guru terlalu lama dalam menjelaskan materi, dan banyak siswa yang tidak berani untuk menanyakan materi yang belum dipahami atau dimengerti. Dari hasil tes formatif siswa ternyata menunjukkan adanya kenaikan yang cukup berarti kalau pada pra siklus nilai ketuntasan klasikal siswa hanya mencapai 30,77%, maka pada siklus I ini meningkat menjadi 38,46%, tetapi karena nilai ketuntasan klasikal siswa belum mencapai target 75%, maka penulis perlu melakukan perbaikan siklus II.

B. Siklus II
a. Tahap Perencanaan
Seperti pada siklus I, kegiatan perbaikan pembelajaran pada siklus II sama, yaitu menyusun rencana perbaikan pembelajaran dan dikonsultasikan pada supervisor. Dalam perencanaan ini penulis memfokuskan perbaikan pembelajaran pada siklus I yang belum berhasil Yaitu, penggunaan alat peraga, bahasa pengantar dan pemberian kesempatan bertanya. Penulis dan pengamat membuat kesepakatan lagi.
Pada siklus II dilakukan satu kali pertemuan. Alokasi waktu yang diperlukan pada siklus ini yaitu 2 x 35 menit dalam satu kali pertemuan.
Kegiatan-kegiatan rencana pembelajaran pada siklus II antara lain :
1. Membuat Rencana Perbaikkan Pembelajaran Siklus II.
2. Merancang dan membuat soal-soal evaluasi / tes formatif.
3. Menyiapkan alat peraga yang berupa gambar pesawat sederhana.
4. Metode yang digunakan adalah metode penemuan (Discovery).

b. Tahap Pelaksanaan
1. Kegiatan awal: ( 5 menit )
Dalam kegiatan awal guru melakukan apersepsi dengan cara malakukan tanya jawab tentang mean, media dan modus.
2. Kegiatan inti : ( 35 menit )
a. Guru memberikan penjelasan tentang mean, median dan modus
b. Guru memperlihatkan suatu data mata pencaharian suatu penduduk desa.
c. Berdasarkan data tersebut guru memberikan contoh cara untuk mencari mean, median serta modusnya
d. Guru memberikan contoh data lain dan siswa disuruh untuk maju kedepan mencari mean, median dan modusnya berdasarkan data yang dibuat guru.
e. Pemberian kesempatan bertanya kepada siswa apabila ada yang belum dipahaminya.
f. Guru membentuk kelompok diskusi menjadi 4 kelompok.

g. Siswa berdiskusi kelompok dengan bimbingan guru untuk mencari mean, median dan modus, tetapi dengan masalah yang berbeda-beda yaitu : kelompok 1. Berdasarkan jenis olahraga yang diminati siswa kelas VI, kelompok berdasarkan makanan kesukaan dan kelompok 3 berdasarkan usia siswa kelas VI. Dari masalah-masal tersebut siswa di suruh untuk mencari mean, media serta modusnya.
h. Perwakilan masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya dan kelompok yang lain memberikan tanggapan.
i. Dengan bimbingan guru siswa menyimpulkan atau merangkum materi pelajaran yang telah didiskusikan

3. Kegiatan akhir : ( 10 menit )
Pada kegiatan akhir dari pelaksanaan perbaikan pembelajaran, guru mengadakan evaluasi atau tes secara lisan, yaitu untuk menyebutkan kembali tentang mean, median dan modus.
4.   Tes Formatif: ( 15 menit )
Dalam perbaikkan pembelajaran secara klasikal guru memberikan tes formatif kepada siswa, siswa mengerjakan tes formatif pada buku pekerjaan siswa, setelah selesai dicocokan dan dinilai untuk ketahui hasil dari perbaikan pembelajaran.

c. Tahap Pengamatan / Observasi.
Dalam pengamatan, guru telah melakukan aktivitas sesuai dengan pelaksanaan perbaikan pembelajaran yang telah terdapat pada perencanaan pembelajaran. Kegiatan itu merupakan aktivitas guru dan siswa, antara lain:
1. Guru mengadakan tanya jawab tentang materi pembelajaran.( 4 )
2. Guru memberi penjelasan apa yamg harus di laksanakan dalam berdiskusi kelompok. ( 4 )
3. Guru memberi motivasi kepada siswa untuk bisa melaporkan tugas diskusinya. ( 5 )
4. Guru memberi tugas kelompok yang berbeda agar tiap kelompok bisa berdiskusi sendiri tanpa kerja sama dengan kelompok lain. ( 4 )

5. Setelah menyimpulkan laporan / menerangkan hasil diskusi. Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk menanyakan materi yang belum di pahami.( 4 ) Guru memberikan tugas kepada siswa untuk mengerjakan tes farmatif.(4)
6. Ketertiban siswa sudah meningkat ( 5 )
7. Siswa sudah disiplin dalam mengikuti proses pembelajaran ( 5 )
8. Siswa sudah berani menjawab pertanyaan guru, dan siswa sudah berani bertanya terhadap materi yang belum dimengerti ( 4 )
Tabel 3
Tabel observasi pelaksaan perbaikan pembelajaran Matematika pada siklus II
Keterangan:
1 = kurang sekali 4 = baik
2 = kurang 5 = baik sekal
3 = cukup

d. Tahap Refleksi.
Setelah kegiatan perbaikan pembelajaran pada siklus I dan siklus II selesai, penelitian dan pengamat mengadakan laporan atas diskusi tentang pembelajaran yang telah dilaksanakan baik pada siklus I atau siklus II. Hasil pembelajaran menjadi bahan pertimbangan bagi penulis.
Pada pelaksanaan perbaikan pembelajaran di Siklus II telah terdapat banyak peningkatan aktivitas pembelajaran. Dan semua aktivitas telah berjalan dengan baik. Dengan nilai rata- rata 64,61.

Kegiatan – kegiatan yang terjadi antara lain :
1. Pengaktifkan siswa dalam pembelajaran.
Dalam mengaktifkan siswa, guru melakukan tanya jawab, memberi tugas latihan yang dikerjakan secara induvidu maupun kelompok, dan memberi kesempatan kepada siswa untuk menanyakan materi yang belum di mengerti. ptk sd kelas 6 doc

2. Penggunaan alat peraga.
Pada proses perbaikan pembelajaran guru menyampaikan materi dengan menggunakan alat peraga yang berupa bangun datar persegi dan persegi panjang.
3. Penggunaan metode Penemuan (Discovery).
Guru telah menggunakan metode dengan baik, sesuai dengan perencanaan. Sehingga siswa tidak bosan dan jenuh, siswa selalu aktif dan suasananya senang.

4. Pemberian Motivasi.
Dalam perbaikan pembelajaran, siswa diberi motivasi dengan baik (disanjung, diberi hadiah) sehingga siswa dalam menerima pembelajaran selau aktif dan menyenangkan.
5. Pemberian Soal- soal Latihan.
Dalam penyampaian materi pembelajaran guru sudah memberi soal-soal latihan lisan atau tertulis dengan bagus dan cukup banyak. Siswa dalam menjawab soal¬soal tes dengan baik dan ada peningkatan pada hasil tes farmatif.
6. Pemberian Kesempatan Bertanya.
Guru telah memberikan kesempatan kepada siswa untuk menanyakan materi pembelajaran yang belum dipahami atau kuasai, sudah ada peningkatan sebab sudah banyak yang berani menanyakan materi yang belum dikuasai.

Pada Siklus II ini disamping telah terjadi peningkatan – peningkatan aktivitas pembelajaran oleh guru juga nilai hasil belajar siswa mengalami peningkatan yang sangat menggembirakan . Kalau pada siklus I rata-rata nilai ketuntasan klasikal siswa 38,46 %, maka pada siklus II ini meningkat menjadi 84,61 %. Karena nilai ketuntasan klasikal siswa sudah melampaui tarjet minimal 75 % maka perbaikan pembelajaran dihentikan.
Hasil belajar siswa dalam perbaikan pembelajaran Matematika kelas VI semester II tahun ajaran 2015/2016 SDN ... Kecamatan ... Kabupaten ..., dalam kompetensi dasar “Mengenal koordinat posisi sebuah benda dan Pengolahan Data“

1. Refleksi Siklus I
Tahap refleksi siklus I dilakukan peneliti bersama teman sejawat, tahap ini membahas tentang kegiatan pembelajaran siklus I oleh guru dan observer maupun teman sejawat untuk melihat keberhasilan pembelajaran dalam siklus I. tindakan ini menitikberatkan pada kelebihan tindakan maupun kekurangan tindakan. Hasil ini digunakan untuk menentukan sikap yang harus dilakukan pada siklus II. Pada tahap ini dilakukan pula analisis data untuk mengetahui sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan, sudah dicapai atau belum pada siklus I yang menggunakan media dua dimensi bangun persegi panjang.

Pelaksanaan perbaikan pembelajaran yang hasilnya sebagai bahan refleksi penulis untuk memperbaikinya.Setelah penulis melaksanakan perbaikan pembelajaran pada siklus I.
Penulis dengan pengamat melakukan diskusi tentang kegiatan yang sudah baik dalam perbaikan hasil pembelajaran :
a. Pengaktifan siswa
Dalam kegiatan pembelajaran guru telah mengaktifkan siswa melalui Tanya jawab, guru memberikan tugas kepada siswa, membimbing siswa dalam mengerjakan tugas, serta member kesempatan kepada siswa untuk menanyakan materi yang belum dipahami.
b. Penggunaan Metode dalam Pembelajaran
Dalam kegiatan perbaikan pembelajaran, guru sudah menggunakan metode dengan baik, sesuai dengan perencanaan, sehingga siswa tidak merasa jenuh dan bosan.

c. Pemberian Motivasi
Dalam kegiatan perbaikan pembelajaran guru memberikan dorongan/motivasi kepada siswa yang bias menjawab pertanyaan pertanyaan dengan benar berupa pujian-pujian dan acungan jempol, dan kepada siswa yang belum bias menjawab dengan benar guru memberikan nasehat untuk melakukan latihan-latihan.
d. Penggunaan Alat Peraga
Dalam proses perbaikan pembelajaran untuk menyampaikan materi dengan kompetensi dasar “ Mengenal koordinat posisi sebuah benda “ semester II kelas VI Tahun pelajaran 2015/2016, guru menggunakan alat peraga kertas berpetak.

Kegiatan yang belum diberikan pada siswa antara lain:
a. Penggunaan bahasa
Penyampaian dalam perbaikan pembelajaran kepada siswa guru menggunakan bahasa Indonesia, sedangkan sebagian siswa belum dapat memahami bahasa yang digunakan oleh guru masih terlalu cepat dalam penyampaiannya.
b. Pemberian kesempatan bertanya:
Pada perbaikan pembelajaran guru tidak memberi kesempatan bertanya, karena guru terlalu lama dalam menjelaskan materi, dan banyak siswa yang tidak berani untuk menanyakan materi yang belum dipahami atau dimengerti. Dari hasil tes formatif siswa ternyata menunjukkan adanya kenaikan yang cukup berarti kalau pada pra siklus nilai ketuntasan klasikal siswa hanya mencapai 30,77%, maka pada siklus I ini meningkat menjadi 38,46 %, tetapi karena nilai ketuntasan klasikal siswa belum mencapai target 75%, maka penulis perlu melakukan perbaikan siklus II.

2. Refleksi Siklus II
Siklus II berlangsung setelah diadakan refleksi atas perbaikan pembelajaran siklus I. Guru sebagai peneliti dan pelaksana pembelajaran, mengadakan diskusi dengan teman sejawat. selain diskusi, guru juga berkonsultasi dengan supervisor. Konsultasi dilakukan agar dapat menentukan langkah-langkah perbaikan pembelajaran pada siklus II. Kekurangan-kekurangan yang ditemukan pada siklus I akan diatasi. Dalam mengatasi masalah ini guru sebagai peneliti sekaligus pelaksanaan pembelajaran berpedoman pada rencana pembelajaran siklus II, disamping itu guru juga berpedoman pada hasil refleksi yang telah dilakukan. Dengan kata lain kegiatan pada siklus II ini dilaksanakan sebagaimana telah dilaksanakan pada siklus I. penyajian materi pembelajaran dengan menggunakan media untuk meningkatkan daya ingat dan motivasi belajar siswa. Dalam siklus II ini seluruh siswa diupayakan agar membawa media sebagaimana telah tugaskan pada siklus I berupa kertas berpetak.

Setelah kegiatan perbaikan pembelajaran pada siklus I dan siklus II selesai,
penelitian dan pengamat mengadakan laporan atas diskusi tentang pembelajaran yang telah dilaksanakan baik pada siklus I atau siklus II. Hasil pembelajaran menjadi bahan pertimbangan bagi penulis.
Pada pelaksanaan perbaikan pembelajaran di Siklus II telah terdapat banyak peningkatan aktivitas pembelajaran. Dan semua aktivitas telah berjalan dengan baik. Dengan nilai rata- rata 84,61.

Kegiatan – kegiatan yang terjadi antara lain :
1. Pengaktifkan siswa dalam pembelajaran.
Dalam mengaktifkan siswa, guru melakukan tanya jawab, memberi tugas latihan yang di kerjakan secara induvidu maupun kelompok, dan memberi kesempatan kepada siswa untuk menanyakan materi yang belum di mengerti.
2. Penggunaan alat peraga.
Pada proses perbaikan pembelajaran guru menyampaikan materi dengan menggunakan alat peraga yang berupa bangun datar persegi dan persegi panjang.
3. Penggunaan metode yang bervariasi.
Guru telah menggunakan metode dengan baik, sesuai dengan perencanaan. Sehingga siswa tidak bosan dan jenuh, siswa selalu aktif dan suasananya senang.
4. Pemberian Motivasi.
Dalam perbaikan pembelajaran, siswa diberi motivasi dengan baik (disanjung, diberi hadiah) sehingga siswa dalam menerima pembelajaran selau aktif dan menyenangkan.

5. Pemberian Soal- soal Latihan.
Dalam penyampaian materi pembelajaran guru sudah memberi soal-soal latihan lisan atau tertulis dengan bagus dan cukup banyak. Siswa dalam menjawab soal¬soal tes dengan baik dan ada peningkatan pada hasil tes formatif.
6. Pemberian Kesempatan Bertanya.
Guru telah memberikan kesempatan kepada siswa untuk menanyakan materi pembelajaran yang belum dipahami atau kuasai, sudah ada peningkatan sebab sudah banyak yang berani menanyakan materi yang belum dikuasai.
Pada Siklus II ini disamping telah terjadi peningkatan – peningkatan aktivitas pembelajaran oleh guru juga nilai hasil belajar siswa mengalami peningkatan yang sangat menggembirakan . Kalau pada siklus I rata-rata nilai ketuntasan klasikal siswa 38,46 % , maka pada siklus II ini meningkat menjadi 84,61 % . Karena nilai ketuntasan klasikal siswa sudah melampaui tarjet minimal 75 % maka perbaikan pembelajaran dihentikan .

F. Tehnik dan alat Pengumpulan data
1. Tehnik Pengumlulan data
Alat yang digunakan dalam pengumpulan data disebut instrument. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini yaitu :
1. Tes
Tes yang digunakan sebagai alat pengumpulan data untuk mengukur kemampuan tingkat pengetahuan siswa pada materi sistem koordinat pada mata pelajaran matematika, tes yang digunakan berupa tes akhir siklus 1 dan tes akhir siklus 2.

2. Lembar observasi
Dalam menggunakan metode bervariasi dan penggunaan media pembelajaran dua dimensi merupakan cara yang cukup efektif yaitu dengan menyusun format-format yang berisi item-item tentang kejadian atau tingkah laku yang digambarkan akan terjadi. Dianjurkan di sini bahwa penguraian tingkah laku memang harus spesifik dan dengan contoh, tetapi contoh tersebut tidak dituliskan dalam formal. Pedoman pengisian perlu disusun untuk memperjelas pengamatan. Pengamatan ini dilakukan oleh peneliti dan 2 orang supervisor sebagai pendamping peneliti untu k menghasilkan penelitian berikutnya.

2. Alat pengumpulan data
a. Lembar soal tes ( terlampir )
Selesaikan soal-soal berikut ini !
Pada buku berpetak, gambarlah bidang koordinat di bawah ini. Kemudian tentukan letak titik-titik berikut :
a. A. (1,1)
b. B (2,2)
c. C (3,3)
d. D (4,4)
e. E (5,5)
f. (6,6)
g. (7,7)
h. (8,8)
i. (9,9)
j. (10,10)
TABEL 4
Lembar observasi pembelajaran Matematika pada siklus I

Keterangan:
1 = kurang sekali 4 = baik
2 = kurang 5 = baik sekal
3 = cukup

G. Validasi Data
1. Data nilai siswa (data kuantitatif) divalidasi dengan instrumen soal tes.
2. Data proses pembelajaran (data kuantitatif) divalidasi dengan triangulasi sumber

H. Analisa data
Data hasil belajar siswa dianalisis menggunakan analisis diskritif, kuantitatif atau komperatif (membandingkan) antara nilai pra siklus, siklus 1 dan siklus 2. Bisa dibuat dalam bentuk tabel atau grafik. Data proses pembelajaran dianalisis menggunakan analisi diskritif, kuantitatif atau komperatif.

I. Indikator kinerja
Data yang terkumpul ditabulasi dan dianalisis dengan analisis data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi penilaian tes dan penilaian ketuntasan belajar siswa. Contoh ptk matematika sd kelas 6 pdf
1. Penilaian Tes
Penilaian ini digunakan untuk mendapatkan gambaran tentang penguasaan siswa terhadap materi yang diberikan.
2. Penilaian ketuntasan belajar
Penilaian ini digunakan untuk mengetahui gambaran tentang seberapa besar pengetahuan siswa terhadap materi yang sudah di sampaikan, Apakah sudah mencapai KKM (58) yang sudah ditentukan, nilai rata-rata kelas dan skore aktifitas siswa serta dapat mencapai ketuntasan minimal 75 % dari jumlah siswa.

J. Prosedur penilaian
Penelitian ini menggunakan pendekatan PTK yang terdiri dari 2 siklus, masing-masing siklus terdiri dari langkah-langkah perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi.

PENELITIAN TINDAKAN KELAS MATEMATIKA KELAS 6 

DAFTAR PUSTAKA


Andayani, dkk. (2007). Materi Pokok Pementapan Kemampuan Pro fesional.
Jakarta : Universitas Terbuka
Elang Krisnadi (2005). Buku Materi Pokok Pembelajaran Matematika SD.
Jakarta : Universitas Terbuka.
Hidayat, M Asikin. (2003). Pembelajaran Matematika yang Kontekstual
(Makalah disampaikan pada diklat Fungsional TOT Guru SD bidang Studi Matematika Propinsi Jawa Tengah di Semarang).
Ikhsan, Moch. (2003:6). Strategi Belajar Matematika di SD .
(Makalah disampaikan pada diklat Fungsional TOT Guru SD bidang Studi Matematika Propinsi Jawa Tengah di Semarang).
Lappan, G. (2002). Connected Mathemathics Project : Research and Evaluation Summary. Muhsetyo, Gatot, dkk. (2005). Buku Materi Pokok Pembelajaran Matematika SD. Jakarta : Universitas Terbuka.
Nasution, AH. (1978). Landasan Matematika.
Jakarta : Bhatara Karya Aksara.
Suryadi, Didi. (1997). Alat Peraga dan Media Pen gajaran Matematika.
Jakarta : Ditjen Dikdasmen Depdikbud.
The Liang Gie. (1999). Filsafat Matematika (bagian Ketiga).
Yogyakarta : PUBIB.
Winataputra, H. Udin S, dkk (1998). Buku Materi Pokok Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Universitas Terbuka.

Terimakasih atas kunjungan anda yang telah membaca postingan saya CONTOH PTK MATEMATIKA SD METODE DENGAN TERBARU

Postingan terkait: